Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n
Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Bagaimana kita menyikapi kenaikan tarif cukai rokok yang tidak rasional ini? Jika kalian memang mampu secara finansial dan merasa mampu untuk membeli produk rokok reguler yang biasa kalian konsumsi, teruskan untuk tetap mengonsumsinya. Tapi bagi kalian yang merasa kenaikan ini memberatkan, maka sudah waktunya kita membangun perlawanan. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Kenaikan ini tentunya akan mengerek harga jual rokok di pasaran. Produk rokok yang paling telak dihajar dari kenaikan tarif cukai ini adalah produk-produk reguler atau golongan 1. Apa saja produk reguler atau golongan 1 ini? Gampang saja kita memetakannya, produk ini biasanya merupakan produk unggulan dari masing-masing brand. Bagaimana kita menyikapi kenaikan tarif cukai rokok yang tidak rasional ini? Jika kalian memang mampu secara finansial dan merasa mampu untuk membeli produk rokok reguler yang biasa kalian konsumsi, teruskan untuk tetap mengonsumsinya. Tapi bagi kalian yang merasa kenaikan ini memberatkan, maka sudah waktunya kita membangun perlawanan. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Kenaikan ini tentunya akan mengerek harga jual rokok di pasaran. Produk rokok yang paling telak dihajar dari kenaikan tarif cukai ini adalah produk-produk reguler atau golongan 1. Apa saja produk reguler atau golongan 1 ini? Gampang saja kita memetakannya, produk ini biasanya merupakan produk unggulan dari masing-masing brand. Bagaimana kita menyikapi kenaikan tarif cukai rokok yang tidak rasional ini? Jika kalian memang mampu secara finansial dan merasa mampu untuk membeli produk rokok reguler yang biasa kalian konsumsi, teruskan untuk tetap mengonsumsinya. Tapi bagi kalian yang merasa kenaikan ini memberatkan, maka sudah waktunya kita membangun perlawanan. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Lebih detail lagi rata-rata kenaikan tarif cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29%, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik sebanyak 12,84%.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Kenaikan ini tentunya akan mengerek harga jual rokok di pasaran. Produk rokok yang paling telak dihajar dari kenaikan tarif cukai ini adalah produk-produk reguler atau golongan 1. Apa saja produk reguler atau golongan 1 ini? Gampang saja kita memetakannya, produk ini biasanya merupakan produk unggulan dari masing-masing brand. Bagaimana kita menyikapi kenaikan tarif cukai rokok yang tidak rasional ini? Jika kalian memang mampu secara finansial dan merasa mampu untuk membeli produk rokok reguler yang biasa kalian konsumsi, teruskan untuk tetap mengonsumsinya. Tapi bagi kalian yang merasa kenaikan ini memberatkan, maka sudah waktunya kita membangun perlawanan. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Pemerintah pada tahun ini menaikkan cukai rokok rata-rata 23% dan harga jual eceran (HJE) 35%. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152\/PMK.010\/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK 146\/2017. Lebih detail lagi rata-rata kenaikan tarif cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29%, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik sebanyak 12,84%.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Kenaikan ini tentunya akan mengerek harga jual rokok di pasaran. Produk rokok yang paling telak dihajar dari kenaikan tarif cukai ini adalah produk-produk reguler atau golongan 1. Apa saja produk reguler atau golongan 1 ini? Gampang saja kita memetakannya, produk ini biasanya merupakan produk unggulan dari masing-masing brand. Bagaimana kita menyikapi kenaikan tarif cukai rokok yang tidak rasional ini? Jika kalian memang mampu secara finansial dan merasa mampu untuk membeli produk rokok reguler yang biasa kalian konsumsi, teruskan untuk tetap mengonsumsinya. Tapi bagi kalian yang merasa kenaikan ini memberatkan, maka sudah waktunya kita membangun perlawanan. Salah satu perlawanan efektif dalam menyikapi kenaikan tarif cukai rokok adalah dengan beralih konsumsi rokok reguler ke Tingwe (Linting Dewe). Sebagai seorang perokok, kita pasti akrab dengan istilah Tingwe. Secara sederhana, Tingwe merupakan kegiatan mengolah tembakau sendiri dengan meracik tembakau lalu melinting sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli<\/a><\/p>\n\n\n\n Dengan Tingwe kita tak perlu membayar tarif cukai yang tinggi, namun tetap berkontribusi terhadap kelestarian Industri Hasil Tembakau. Tingwe hanya membayarkan cukai dengan golongan tembakau iris, tetapi kita juga bisa membeli tembakau langsung dari petani tembakau. Kegiatan Tingwe ini sah dan legal. Dari proses tata niaga Tingwe pun tidak melalui mata rantai yang panjang, perokok bisa dapat langsung mendapatkan tembakau tanpa harus lewat proses perdagangan yang rumit. Istilahnya dari petani ke konsumen sangat berdekatan. Mengapa Tingwe bisa lebih murah dan hemat? Perlu diketahui, dari komponen harga rokok muatan pajak sebesar 60-70 persen. Jadi sebenarnya yang paling mendapatkan keuntungan dari penjualan rokok adalah pemerintah. Sementara Tingwe karena kita hanya membeli bahan baku atau belum menjadi produk olahan jadi, maka komponen pajak di dalamnya tidak tinggi. Jadi jika selama ini perokok diperas oleh pemerintah dalam konsumsi rokok, melalui Tingwe kita menolak untuk diperas, perokok membangun perlawanan atas zalimnya pemerintah kepada perokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Budidaya Tembakau Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n Sebelum semua harga rokok reguler naik secara efektif per Maret 2020, mari kita bangun kekuatan perlawan terhadap kebijakan kenaikan tarif cukai yang tidak rasional ini dengan menggelorakan Tingwe kepada seluruh perokok tanah air. Ketika penindasan hadir di depan mata, kita tak boleh diam, bangkit melawan dengan Tingwe!!! Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-muak-ditindas-saatnya-melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-04 10:27:14","post_modified_gmt":"2020-01-04 03:27:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6350","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\nTemuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n