\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini SKT sedang mengalami ancaman serius, saat ini tren produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Produksi SKT sendiri sejak periode 2011 sampai 2019 terus menurun sebesar 5,5% per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Para buruh linting ini didominasi oleh perempuan. Sudah menjadi tradisi sejak dahulu, perempuan yang bekerja sebagai buruh linting. Posisi perempuan dalam ketenagakerjaan di produksi SKT membuat perempuan memiliki kemandirian ekonomi dalam rumah tangga. 
<\/p>\n\n\n\n

Kini SKT sedang mengalami ancaman serius, saat ini tren produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Produksi SKT sendiri sejak periode 2011 sampai 2019 terus menurun sebesar 5,5% per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain unik dan khas, SKT juga mempunyai peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Proporsi penyerapan tenaga kerja pada SKT sebesar rata-rata 85% dari seluruh industri rokok. Serapan tenaga kerja yang besar dikarenakan SKT merupakan industri yang padat karya, produksinya masih dilakukan secara manual lewat tangan-tangan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Para buruh linting ini didominasi oleh perempuan. Sudah menjadi tradisi sejak dahulu, perempuan yang bekerja sebagai buruh linting. Posisi perempuan dalam ketenagakerjaan di produksi SKT membuat perempuan memiliki kemandirian ekonomi dalam rumah tangga. 
<\/p>\n\n\n\n

Kini SKT sedang mengalami ancaman serius, saat ini tren produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Produksi SKT sendiri sejak periode 2011 sampai 2019 terus menurun sebesar 5,5% per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sigaret kretek tangan merupakan kretek yang diproduksi manual oleh buruh linting. Umumnya tak memakai filter, dan orang sering salah kaprah menyebutnya \u2018rokok kretek\u2019 karena tiadanya filter ini. Rokok yang dibuat lewat tangan berbentuk konus atau jirus, kecil pada bagian hisap dan makin membesar pada bagian ujung bakar.
<\/p>\n\n\n\n

Selain unik dan khas, SKT juga mempunyai peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Proporsi penyerapan tenaga kerja pada SKT sebesar rata-rata 85% dari seluruh industri rokok. Serapan tenaga kerja yang besar dikarenakan SKT merupakan industri yang padat karya, produksinya masih dilakukan secara manual lewat tangan-tangan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Para buruh linting ini didominasi oleh perempuan. Sudah menjadi tradisi sejak dahulu, perempuan yang bekerja sebagai buruh linting. Posisi perempuan dalam ketenagakerjaan di produksi SKT membuat perempuan memiliki kemandirian ekonomi dalam rumah tangga. 
<\/p>\n\n\n\n

Kini SKT sedang mengalami ancaman serius, saat ini tren produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Produksi SKT sendiri sejak periode 2011 sampai 2019 terus menurun sebesar 5,5% per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok sigaret kretek tangan (SKT) saat ini seringkali dianggap kuno atau dibilang seperti kakek-kakek. Padahal sejatinya SKT merupakan produk yang paling khas dari varian produk kretek lainnya. Terbentuknya entitas kretek berawal dari SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Sigaret kretek tangan merupakan kretek yang diproduksi manual oleh buruh linting. Umumnya tak memakai filter, dan orang sering salah kaprah menyebutnya \u2018rokok kretek\u2019 karena tiadanya filter ini. Rokok yang dibuat lewat tangan berbentuk konus atau jirus, kecil pada bagian hisap dan makin membesar pada bagian ujung bakar.
<\/p>\n\n\n\n

Selain unik dan khas, SKT juga mempunyai peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Proporsi penyerapan tenaga kerja pada SKT sebesar rata-rata 85% dari seluruh industri rokok. Serapan tenaga kerja yang besar dikarenakan SKT merupakan industri yang padat karya, produksinya masih dilakukan secara manual lewat tangan-tangan buruh linting.
<\/p>\n\n\n\n

Para buruh linting ini didominasi oleh perempuan. Sudah menjadi tradisi sejak dahulu, perempuan yang bekerja sebagai buruh linting. Posisi perempuan dalam ketenagakerjaan di produksi SKT membuat perempuan memiliki kemandirian ekonomi dalam rumah tangga. 
<\/p>\n\n\n\n

Kini SKT sedang mengalami ancaman serius, saat ini tren produksi dan konsumsi Sigaret Kretek Tangan (SKT) sedang mengalami penurunan. Produksi SKT sendiri sejak periode 2011 sampai 2019 terus menurun sebesar 5,5% per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Tren penurunan produksi ini disebabkan oleh 2 hal: pertama karena pangsa pasar SKT yang terus menurun pada 2012 sebesar 29% dan kini hanya mencapai 18%. Bukan tidak mungkin pangsa pasar SKT ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Berkurangnya pangsa pasar SKT karena adanya pergeseran selera konsumen dari rokok SKT menuju rokok SKM dapat dilihat dari data tahun 2004,  yang memperlihatkan pangsa pasar rokok SKM dan SKT masing \u2013 masing sebesar 56% dan 37%. Lalu hanya dalam kurun waktu 11 tahun, pada tahun 2015 pangsa SKM dan SKT berubah menjadi 75% dan 19%.
<\/h2>\n\n\n\n

Banyak analis yang mengatakan, pergeseran tren konsumsi ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya minat konsumen (terutama konsumen muda) terhadap varian baru SKM yaitu SKM-LTLN yang dipelopori (dan masih dikuasai) oleh Sampoerna A Mild.
<\/p>\n\n\n\n

Penyebab kedua dari penurunan produksi ini adalah kebijakan pemerintah. Tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan terhadap SKT. Dimulai dari kenaikan cukai yang eksesif menyebabkan produsen SKT tidak mampu lagi bertahan. Perlu dicatat, produsen SKT didominasi oleh pabrikan-pabrikan kecil. Bahkan dulu produsen SKT banyak yang industri rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Peraturan pemerintah yang pernah memukul produsen SKT skala industri rumahan adalah ketika diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 200 yang mewajibkan batas luas usaha minimal 2.000 m2. Padahal pada peraturan sebelumnya, PMK No 75 luas usaha yang diwajibkan minimal 50 m2. 
<\/p>\n\n\n\n

Setelah terbitnya peraturan tersebut Gabungan Pengusaha rokok (Gapero) mencatat hampir 50 persen pabrik rokok kretek terpaksa gulung tikar. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah perubahan luas lokasi usaha.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi dalam hal terjadinya penurunan produksi SKT, pemerintah turut andil di dalamnya, artinya pemerintah juga bertanggung jawab terjadinya kepunahan SKT. Pemerintah seharusnya melindungi SKT dari kepunahan bukan malah mempercepatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Belum ada kata terlambat untuk melestarikan SKT di Indonesia. Untuk memperbesar pangsa pasar tentu sangat sulit, tapi untuk menjaga dan melestarikannya banyak upaya yang bisa dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, pemerintah harus membebaskan sektor SKT dari beban cukai yang tinggi. Ini dapat menjadi stimulus yang baik bagi pabrikan kecil untuk terus bertahan dalam kegiatan produksi mereka. Selain itu beban cukai yang tidak tinggi juga dapat menjaga disparitas harga SKT dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok putihan. 
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, pemerintah harus membuat regulasi khusus terkait dengan perlindungan SKT. Regulasi ini nantinya dapat menjadi payung hukum dalam hal perlindungan SKT, bisa dengan menjadikan SKT sebagai heritage atau warisan budaya tak bendawi.
<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, pemerintah mensupport komunitas konsumen SKT agar konsumen SKT tetap stabil. Selama ini komunitas konsumen dibentuk oleh pabrikan, namun tidak spesifik menyasar konsumen SKT. Pemerintah dapat membantu support dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dan berekspresi.
<\/p>\n\n\n\n

Jika ketiga hal tersebut dilakukan dengan cepat, maka peluang untuk melestarikan SKT di Indonesia jadi lebih besar. Langkah-langkah pelestarian ini menjadi penting, karena kalau bukan kita siapa lagi?
<\/p>\n","post_title":"Pentingnya Pelestarian Sigaret Kretek Tangan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pentingnya-pelestarian-sigaret-kretek-tangan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-28 06:57:19","post_modified_gmt":"2020-07-27 23:57:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6966","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};