Sulitkah Mereview Sebuah Merek Rokok?

review rokok

Kalian pernah membaca sebuah review rokok di situs-situs soal tembakau atau media sosial? Semodel Review Rokok dan Rokok Indonesia misalnya, atau Komunitas Kretek?  umumnya sebuah review, maka segala sesuatunya harus dicoba dulu. Seperti review mobil, selain melihat fitur dan desain, kita juga harus mencoba mengendarai mobil di area yang sudah ditentukan semisal kita mencoba saat pameran mobil dan pabrikannya menyediakan layanan test ride di lokasi pameran.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membuat sebuah review, nyatanya banyak sekali content creator di youtube berlomba-lomba membuat konten review. Ada yang hasilnya baik, ada yang hasilnya biasa saja. Ada yang jujur ada yang bisa dibilang tidak sepenuhnya benar karena alasan dia membuat konten itu hasil kerjasama dengan brand yang direview.

Membuat review rokok juga gampang-gampang susah. Misal begini, kalian adalah garis keras rokok kretek aliran timur pulau Jawa dengan karakter gurih, manis yang cukup dan wangi yang tidak terlalu tajam. Di sisi lain kalian diminta mereview rokok kretek kelahiran Jawa tengah, yang mayoritas bercita rasa seperti Djarum atau Sukun.

Saya pribadi bukan orang yang sangat ahli dalam mereview rokok, itu kenapa kalau kalian perhatikan beberapa tulisan saya, semua rokok yang saya review “bergenre” Gudang Garam dan Djarum Super. Saya merokok pertama kali didampingi oleh produk-produk Gudang Garam. Lalu saya melakukan “pendalaman” dalam dunia ahli hisap ditemani oleh produk Djarum. Memang sesekali perjalanan saya sebagai “ahli hisap” ditemani juga oleh Djisamsoe, tapi bukan berarti saya paham betul tentang merek itu. “Kiblat” utama saya dalam mereview sebuah produk rokok tetap berpatokan pada Kediri dan Kudus.

Hingga akhirnya sekitar 2-3 tahun lalu setelah mencicipi ratusan merek rokok sepanjang hidup saya, saya berani memberikan pendapat tentang beberapa merek rokok saat ada orang yang bertanya apakah merek rokok dari sebuah pabrikan itu enak atau biasa saja menurut saya? Misal saat ada merek rokok baru seperti MLD Black saat pertama kali muncul di pasaran, karena banyak orang yang tahu saya aktif di dalam isu kretek akhirnya banyak yang menganggap saya fasih saat harus menjelaskan sebuah produk rokok kretek. Padahal, tidak harus juga orang yang paham mengenai isu kretek bisa mereview sebuah merek.

Tapi karena sering dianggap seperti itu, akhirnya tiap kali ada merek rokok baru, saya biasanya “mewajibkan” untuk membeli sebungkus untuk saya pelajari. Mulai dari kenapa merek itu muncul, apakah karena alasan persaingan pasar atau malah tujuannya untuk mengisi “ruang kosong” di pasaran. Lalu saya lanjut ke persoalan kemasan; desain luar, desain dalam sampai detail batang rokoknya; flter-cincin filter-badan-merek di batang-ujung bakar.

Kemudian saya akan melanjutkan mencium aroma rokok itu sebelum terbakar. Saya tempel bungkus rokok yang sudah terbuka bagian tutupnya, membedakan aroma rokok yang bercampur antara aroma grenjeng di dalam kemasan. Atau aroma yang bercampur bungkus plastik bagian dalam seperti 76 Madu Hitam atau Gurame. Saya menghirupnya berulang kali selama beberapa saat, lalu batangan rokok pun saya keluarkan dan perlakuan sama juga saya lakukan ke batang rokok tadi; mencium bau dari ujung filter sampai ujung bakar dan saya lakukan berulang kali sebelum rokok itu dibakar untuk pertama kali. 

Dari 2 proses itu, saya akan “mencatat” aroma apa saja yang saya rasakan dari rokok tadi. Bau tembakau sudah tentu saya tandai, saya akan mengingat isi “perpustakaan tembakau” saya lalu bau tembakau apa yang ada di dalamnya, biasanya di bagian ini saya akan menebak daerah, misal baunya dominan bau tembakau Madura atau Tembakau Temanggung secara general. Baru setelahnya aroma cengkeh dan saus seperti apa yang terkandung di dalamnya. Soal menebak berapa jenis tembakau dan cengkeh jenis apa yang ada di dalam rokok itu saya pikir tidak ada yang benar-benar tepat menebaknya kecuali R&D dari produsen.

Setelah beberapa hisapan awal, saya baru akan menilai siapa target konsumen dari merek tersebut, laki-laki atau perempuan, muda atau tua, di kondisi seperti apa rokok itu dinikmati dan kira-kira akan bertahan berapa lama rokok itu muncul di pasaran. Ini juga bukan hal yang mudah bagi reviewer rokok otodidak seperti saya, sekaligus bukan hal yang sulit bagi mereka yang sudah sering mereview rokok. Tapi namanya tebakan, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Itu semua bisa saya asumsikan dari asap rokok yang saya hisap, seberapa pekat kepulannya, lalu terasa kering di tenggorokan atau tidak, bagaimana rasa dan aroma asap yang lewat di rongga mulut dan hidung sampai aftertaste saat asap rokok habis kita hembuskan. Sederhana? tidak juga, butuh latihan dan percobaan beberapa kali. Yang paling sulit bagi saya adalah bagaimana kita mendeskripsikan visual kemasan, rasa dan karakter dari sebuah merek rokok kretek. Tentu penilaian ini juga saya sesuaikan dengan harga jual merek tersebut di pasaran serta apa merek yang akan menjadi pesaingnya. 

Dari beberapa tahapan itu tadi, saya akan merekam dengan baik semua ingatan saya dan menyimpan itu semua melalui indera perasa dan penglihatan. Kelak di kemudian hari kalau ada yang bertanya sudah pernah mencoba merek A atau belum, enak atau tidak, ramah di kantong atau tidak layak beli, sampai soal gampang ‘apek’ atau tidak.

Jadi kalau kalian sudah pernah melakukan hal-hal di atas dengan sengaja atau tidak, kalian sudah bisa dikategorikan sebagai reviewer rokok, soal detail, ketelitian dan hasil akan selalu menemui perbaikan seiring dengan jam terbang kalian. Tanpa maksud menggurui, tapi ini penyemangat juga buat kalian seandainya ada yang mau menulis di sini soal review rokok. Siapa tahu, ada gaya baru dalam mereview rokok, dengan cara dan penjelasan berbeda, enak dibaca dan orang akan mudah paham. Siapa tahu lagi, kalian dilirik oleh produsen rokok dan ditawari menjadi tim R&D, atau minimal ditawari magang di divisi R&D perusahaan. Lumayan, dapat ilmu yang akan sulit kita temukan di manapun.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Lelaki yang Mencintai Banyak Hal