Sisitipsi, grup band yang menjadi jeda di tengah ritme kota yang kian makin cepat oleh algoritma dan tuntutan produktivitas. Musik mereka tidak meledak-ledak. Tidak pula mengumbar kemarahan ataupun mengejar sensasi belaka. Ia mengalir pelan, mengayun seperti langkah kaki di trotoar malam hari. Dalam lagu-lagunya, waktu seakan melambat, seperti kopi yang dibiarkan mendingin, seperti percakapan yang tak perlu segera ditutup, dan seperti malam yang sengaja dipanjangkan.
Daftar Isi
ToggleSisitipsi tumbuh dari Jakarta. Mereka lahir dari ruang-ruang transisi—teras rumah, warung kopi, balkon kos, dan sudut kota. Tempat orang berhenti sejenak sebelum melanjutkan hidup. Pilihan musikal mereka: swing, pop, dan nuansa jazz ringan. Pilihan musikalnya bukan hanya sekadar preferensi estetika, melainkan sikap budaya. Sikap untuk tidak tergesa-gesa mengikuti zaman.
Dalam peta musik independen Indonesia, Sisitipsi menempati posisi yang unik. Mereka tidak tampil sebagai band dengan narasi perlawanan besar. Mereka juga tidak larut dalam romantisasi kosong. Lagu-lagu mereka berbicara tentang relasi personal dengan bahasa yang sederhana, namun jujur. Pendengar tidak diajak berteriak, melainkan duduk bersama, mengobrol, dan menikmati lirik demi lirik. Bukan seperti orator yang sedang berteriak: menentang rezim yang tak becus mengurusi bangsa.
Vokalis Sisitipsi menggunakan rokok sebagai bahasa tubuh
Di atas panggung, sikap itu tercermin jelas. Vokalis Sisitipsi—yang akrab dipanggil Ojan—tampil tanpa gestur berlebihan. Dalam beberapa penampilan, Ojan bernyanyi sambil merokok. Sebuah gestur yang bagi sebagian orang mungkin dipandang sepele. Namun dalam konteks budaya, gestur ini menyimpan makna yang lebih dalam. Rokok di sini bukan aksesoris panggung, melainkan bagian dari bahasa tubuh.
Untuk memahami gestur tersebut, kita perlu menarik garis ke belakang, pada sejarah musik Indonesia itu sendiri. Rokok telah lama menjadi bagian dari lanskap musikal Nusantara. Dari penyanyi keroncong era awal, musisi jazz, hingga penyair dan pemusik angkatan 1970-an, rokok kerap hadir sebagai teman berpikir dan penanda suasana. Entah di ruang latihan, di balik panggung, hingga dalam lirik dan foto-foto dokumentasi.
Rokok sebagai simbol perenungan dan kelelahan emosional
Dalam musik populer Indonesia, figur-figur seperti penyanyi balada, musisi folk, hingga band-band rock era 1990-an sering diasosiasikan dengan rokok. Pemaknaan itu sebagai simbol perenungan dan kelelahan emosional. Rokok menjadi bagian dari citra seniman urban: seseorang yang hidup dalam jeda, memelihara kegelisahan, dan akrab dengan malam. Dalam banyak kasus, rokok bukan promosi, melainkan kebiasaan yang lahir dari konteks sosial zamannya.
Tradisi ini berlanjut hingga skena independen. Di gigs kecil, panggung kampus, atau pertunjukan alternatif, rokok hadir sebagai bagian dari atmosfer. Ia menemani diskusi, kritik musik, dan proses kreatif. Rokok menjadi artefak budaya yang merekam cara generasi tertentu memaknai waktu dan ruang.
Dalam konteks itulah, gestur vokalis Sisitipsi dapat terbaca. Merokok di atas panggung bukanlah upaya membangun citra liar atau maskulin berlebihan, melainkan bentuk keberlanjutan dari tradisi musikal urban. Ia menjadi simbol jeda di tengah lagu, penanda bahwa pertunjukan tidak sedang dikejar waktu. Seperti musik mereka, rokok hadir dengan ritme sendiri; perlahan, dan tidak tergesa-gesa.
Gestur ini juga dapat dibaca sebagai sikap terhadap industri. Di era ketika musisi dituntut tampil bersih, energik, dan serba terukur, Sisitipsi justru mempertahankan kesan apa adanya. Rokok menjadi simbol penolakan halus terhadap performativitas berlebih. Ia menyampaikan pesan bahwa musik tidak selalu harus steril dan rapi; ia boleh berantakan, berasap, dan manusiawi.
Merokok saat manggung bukan glorifikasi Sisitipsi terhadap rokok
Namun penting untuk tahu, pembacaan budaya ini tidak ada maksud sebagai glorifikasi. Rokok tidak ditempatkan sebagai gaya hidup ideal, melainkan sebagai praktik sosial yang historis. Media rokok dan budaya memiliki peran penting untuk membaca fenomena ini secara kontekstual, cara pandangnya sebagai bagian dari sejarah, bukan ajakan.
Sisitipsi sendiri tidak menjadikan rokok sebagai identitas band. Ia hadir tanpa slogan, tanpa narasi besar. Sama seperti kursi plastik di teras rumah atau asbak di sudut meja, rokok dibiarkan menjadi bagian dari lanskap. Ia tidak ditonjolkan, tetapi juga tidak disembunyikan.
Seiring waktu, Sisitipsi menunjukkan kedewasaan. Musik mereka berkembang, produksi semakin matang, namun ruh santainya tetap terjaga. Mereka tidak terjebak nostalgia, tetapi juga tidak sepenuhnya larut dalam percepatan zaman. Dalam konteks budaya, ini adalah sikap yang penting: menjaga jarak tanpa memutus hubungan.
Pada akhirnya, Sisitipsi adalah tentang seni hidup perlahan di tengah kota yang bising. Tentang musik yang memberi ruang, gestur yang jujur, dan kebiasaan sebagai jejak budaya. Di antara lagu-lagu yang mengayun dan asap yang mengepul pelan, Sisitipsi mengingatkan bahwa dalam sejarah musik Indonesia, jeda selalu punya tempat, dan kadang, jeda itu bernama rokok.




