Perkenalan saya dengan Diplomat Mild berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Momen ini justru berujung pada kenyamanan yang tak terduga. Awalnya, saya baru tahu rokok Diplomat Mild ternyata nikmat. Pertama kali mencoba, saya mengambil milik bapak di rumah. Kondisi kantong sedang kosong dan tidak bisa beli rokok. Saya pun terpaksa menyikat rokok bapak untuk sekadar iseng.
Daftar Isi
ToggleSiapa sangka, tarikan pertamanya langsung terasa pas di lidah. Rasanya lumayan halus dan tidak menusuk di bagian tenggorokan. Asapnya pun menyisakan sensasi yang terasa sangat menyenangkan.
Kualitas Rasa Juara dan Harga Ramah Kantong
Seiring waktu, pilihan rokok ini makin tervalidasi oleh lingkungan. Banyak teman saya yang ternyata juga merokok Diplomat Mild. Saat nongkrong santai, bungkus rokok ini sering berpindah tangan. Kualitas rasa Diplomat Mild jelas tidak bisa diremehkan. Rasanya sama sekali tidak kalah dari kompetitor Sampoerna Mild. Padahal, merek tersebut sering menjadi standar rokok mild pasaran. Terdapat rasa gurih dan paduan tembakau yang sangat mantap. Meski begitu, tarikannya tetap terasa ringan saat sedang diisap.
Selain masalah rasa, faktor isi dompet tentu sangat menentukan. Harga Diplomat Mild jelas lebih murah daripada Sampoerna Mild. Kebutuhan harian saat ini terasa semakin banyak dan mencekik. Menemukan rokok ramah kantong berkualitas premium adalah sebuah keberuntungan. Harganya sangat terjangkau di kisaran 26 hingga 27 ribu. Menariknya lagi, harga tersebut sudah mendapatkan isi 16 batang. Ini adalah kombinasi yang sangat pas untuk ukuran mahasiswa.
Rokok Diplomat Mild Jadi Teman Setia Organisasi
Rokok ini akhirnya punya nilai historis dalam perjalanan saya. Diplomat Mild sering menemani saya saat kerja kaderisasi organisasi. Saya kerap menempuh perjalanan jauh antar kota dan cabang. Kami sering berdiskusi larut malam membahas kondisi evaluasi bangsa. Dalam momen penting tersebut, rokok ini tidak boleh ketinggalan. Desain kemasan bungkusnya juga terlihat sangat khas anak muda. Kesannya sangat modern, simpel, dan elegan dibawa ke mana-mana.
Keterikatan dengan rokok ini makin kuat karena realitas organisasi. Banyak tokoh PMII di Jawa Tengah yang ternyata mengisapnya. Melihat senior organisasi memakai rokok sama memunculkan semangat tersendiri. Hal ini seolah menjadi simbol keteladanan kecil di lapangan. Hubungan emosional inilah yang membuat saya semakin merasa nyaman.
Semua berawal dari rokok curian milik bapak di rumah. Kini, rokok ini menjadi peneman setia di forum-forum PMII. Selama harganya ramah di kantong, saya akan tetap setia. Apalagi jika konsistensi rasanya terus terjaga dengan sangat baik. Rokok ini akan terus menemani setiap proses perjalanan saya.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Review Diplomat Evo Sopra, Primadona Rokok Mild Kelas Menengah










