Bohong Kalau Bicara Rokok Bikin Candu, Nyatanya itu Hanyalah Kebiasaan dan Pilihan Pribadi Manusia!

kecanduan rokok itu tidak ada, adanya hanya kebiasaan

Di dunia ini, banyak sekali isu soal makanan dan minuman ataupun olahan yang dianggap tidak baik atau tidak sehat untuk dikonsumsi. Tapi di antara banyaknya isu, hanya soal rokoklah yang dianggap paling tidak adil. Seolah-olah rokok adalah barang yang sangat nista. Hanya di isu rokok, banyak lembaga yang bekerja untuk membunuh rokok.

Kalau di isu yang lain tidak seperti itu. Misal isu persoalan minuman bersoda atau mie instan tidak baik untuk kesehatan, tapi tidak ada lembaga yang bekerja untuk itu. Tidak ada KOMNAS Pengendalian Mie Instan atau minuman bersoda. Hanya sebatas isu saja. Tapi kalau di isu rokok tidak seperti itu, banyak lembaga yang bekerja dan infrastrukturnya pun juga banyak. Seolah rokok harus lenyap dari bumi.

Hanya di persoalan rokok saja manusia diadu domba, dibagi dua persoalan: yang merokok atau tidak merokok. Seolah-olah persoalanya ideologis.  Padahal merokok atau tidak, itu hanya sebuah pilihan. Tidak ada yang Istimewa. Saya masih sering mendengar ketika ada yang bertanya soal rokok dengan pertanyaan, kamu merokok atau tidak, kalau jawabanya tidak, pasti akan mendapat pujian: “Wah keren”, “wah hebat” dan kata-kata lain semacam itu. Seolah-olah orang yang merokok adalah orang yang bodoh. Saya ulangi, merokok atau tidak hanyalah pilihan. 

Narasi soal rokok selalu buruk

Banyak narasi untuk menyerang rokok. Apapun narasinya, asalkan berisi hal buruk tentang rokok pasti akan diamini banyak orang. Penelitian-penelitian pun juga sama, asalkan berisi untuk meyakinkan orang agar berhenti merokok pasti akan diterima. Berbeda dengan narasi atau penelitian tentang dampak baik merokok atau ajakan merokok, pasti akan hilang atau lenyap. Bahkan kadang hanya dianggap bualan semata.

Kecanduan rokok? Rokok bukan candu!

Merokok adalah pilihan. Dan merokok merupakan kebiasaan. Bukan candu atau kecanduan. Seringkali saya mendengar jika ada orang yang merokok, pasti dibilang kecanduan rokok. Atau himbauan, “jangan coba-coba merokok, nanti bisa kecanduan,” dan sebagainya. Padahal pernyataan itu jelas keliru. Bisa dibilang itu tuduhan yang tidak jelas. Rokok seolah-olah sama halnya dengan narkotika dan obat-obatan terlarang. Atau mengandung zat adiktif yang menyebabkan candu. 

Karena Kalau rokok dibilang candu, maka kita ada di perspektif barang yang memiliki ketergantungan. Ketika tidak menggunakan barang tersebut maka ada efek buruk yang akan dialami. Seperti misal kecanduan narkoba, maka akan sakau atau kejang-kejang ketika tidak menggunakannya.

Tentu, hal itu tidak berlaku di rokok. Ini bukan pembelaan, tapi memang faktanya seperti itu. Setiap orang punya kebiasaan masing-masing untuk merokok: bisa satu bungkus sehari, atau 6 batang sehari, ataupun 1 batang sehari. Semua tergantung kebiasaannya. 

Rokok adalah Kebiasaan dan ini alasanya

Perokok punya kebiasaanya masing-masing. Dan ia pun juga bisa menahan untuk tidak melakukan kebiasaanya tersebut. Dan tidak terjadi efek apa-apa. Jadi mereka tidak sama sekali kecanduan rokok. Sekali lagi, hanya kebiasaan. Sama halnya dengan makan atau minum, bahkan tidur. Itu kebiasaan. Jika ada agenda tertentu bisa saja kebiasaanya dikurangi ataupun bahkan ditambah. 

Misalnya, saya memiliki kebiasaan tidur sehari 6 jam. Makan 2x sehari. Jika ada agenda yang mendesak ataupun ada agenda lain, pasti kebiasaan itu akan berkurang, atau kalau ada waktu luang akan saya tambah. Sama halnya dengan merokok.

“Loh, tapi kan merokok dapat menyebabkan penyakit?”

Jawabanya sederhana: apapun yang berlebihan itu tidak baik. Sama halnya dengan tidur atau makan, jika berlebihan pasti juga tidak baik. Intinya kita harus tau porsi diri kita masing-masing. 

Pada saat Ramadhan pun juga sama, perokok tidak merokok selama 12 jam biasa saja. Tidak kejang-kejang ataupun sakit. Hanya mengurangi kebiasaanya. Jika rokok candu, pasti akan muncul gejala, atau kejang atau bahkan sakit. Tapi kenyataanya tidak. Tetap biasa saja. Ya karena memang rokok bukan candu.

Kepetingan dagang sehingga merokok mendapat stigma kecanduan rokok

Lalu pertanyaanya kenapa rokok dinarasikan sebagai candu? Itu semua tidak lepas dari apa yang saya sampaikan di atas. Banyak lembaga dengan infrastrukturnya menggiring itu. Menyatakan rokok itu candu. Jika kita melihat perang nikotin, itu semua karena perang perusahaan multinasional: perusahaan farmasi vs nikotin. Mereka menyerang rokok dengan narasi yang kejam dan menakutkan, bukan semata-mata karena peduli atau memang tidak sehat. Tapi dibalik itu semua ada, misi dagang obat-obatan. Bukan lagi soal kesehatan, tapi soal pasar.

Mereka menarasikan candu karena jika seseorang kecanduan, maka perlu terapi atau treatmen khusus untuk berhenti dari hal candu. Nah, dengan narasi merokok menyebabkan kecanduan, jika ingin berhenti merokok, maka harus lewat treatmen dengan membeli obat atau produk alternatif dari industri farmasi.

Sebelum itu, maka mereka membuat narasi-narasi yang menakutkan terhadap rokok. Agar orang berhenti merokok. Menurut jumlah data dari World Health Organization (WHO), perokok di Indonesia saja berjumlah 70-90 juta orang. Bayangkan jika 90 juta orang itu harus membeli obat dari produk farmasi sehari sekali dalam sebulan untuk berhenti merokok. Berapa keuntungan yang didapatkan? Ini baru Indonesia. Belum lagi negara-negara yang lain.

Itu juga baru bicara obatnya untuk berhenti merokok. Belum lagi produk alternatif mereka untuk mengganti rokok yang bisa membuat tenang seperti rokok karena kandungan nikotinya. Atau obat stres. Belum lagi rokok putih. 

Itu semua soal kepentingan dagang

Narasi-narasi soal rokok tidak lepas dari kepentingan ekonomi dan bisnis. Bukan soal kesehatan. Begitu mengerikanya perang dagang ini. Banyak sekali yang dikorbankan dan dikambing hitamkan. Memang, kalau sudah urusan ekonomi semua akan ditabrak, entah itu benar atau salah. Bahkan hajat hidup orang pun juga ditabrak. 

Sudah saatnya kita berpikir jernih, dengan tidak menerima narasi-narasi soal rokok dengan mentah. Jangan sampai kita menjadi korban dari perang dagang yang licik itu. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, maka kita tinggal menunggu waktu saja untuk melihat rokok atau kretek yang khas Indonesia hanya ada di museum atau di kolektor barang antik. 

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika

BACA JUGA: Perempuan Merokok Selalu Dianggap Tabu, Padahal Perempuan Merokok itu Bukti Perlawanan Terhadap Budaya Patriarkis

Artikel Lain

No Content Available

Artikel Lain