Tipe-Tipe Rokok Muktamirin Di Muktamar NU 35

muktamar

Muktamar adalah musyawarah tertinggi pengambilan keputusan dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), yang diadakan secara berkala untuk menentukan arah gerak dan memilih pemimpin di PBNU sebagai tingkatan tertinggi dalam struktural NU.

Muktamar NU selalu menghadirkan banyak karakter warga Nahdliyin. Selain forum persidangan dan berbagai agenda organisasi, ada juga kebiasaan sederhana yang sering terlihat di sela-sela acara, salah satunya adalah merokok. Pilihan rokok para muktamirin pun cukup beragam. Tentu saja, pembagian ini hanya gambaran ringan yang dilihat dalam kegiatan warga nahdliyin sehari-hari dan bukan klasifikasi resmi.

Kiai atau Pengasuh Pesantren

Beliau biasanya lebih dekat dengan rokok yang memiliki cita rasa klasik. Pilihan seperti L.A. Lights, Djarum Super, dan Dji Sam Soe (234) cukup menggambarkan karakter kelompok ini. Rokok biasanya menjadi teman ketika berbincang, menerima tamu, atau berdiskusi panjang setelah kegiatan.

Gus (putra kiai) atau tokoh muda NU

Beliau cenderung memiliki pilihan yang lebih mengikuti perkembangan zaman. Mereka dinamis, memperhatikan gaya, tetapi tetap menyukai rokok dengan tarikan yang terasa. L.A., Gudang Garam Surya, dan Djarum Black bisa dimasukkan dalam kategori ini.

Sopir Kiai

Sopir kiai biasanya memiliki kebutuhan berbeda. Mereka sering menghabiskan waktu di perjalanan, menunggu kiai dalam berbagai agenda, bahkan harus menyetir hingga malam. Apalagi dalam forum muktamar ini, dimana jam terbangnya sangat tinggi. Karena itu, rokok seperti Gudang Garam Surya 12 atau 16, Gudang Garam Inter, dan Djarum Super kerap dianggap cocok menemani perjalanan dan waktu menunggu.

Romli atau rombongan liar/penggembira

Kelompok ini biasanya datang dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Kelompok ini tidak punya hak suara, hanya datang dengan cinta untuk hurmat dengan NU. Biasanya soal merek bukan persoalan utama untuk para romli ini. Yang penting harganya terjangkau dan bisa dinikmati bersama. Djarum 76, Tenor, Sukun, atau tingwe menjadi pilihan yang bisa menggambarkan kelompok ini. Yang utama adalah tetap bisa ngebul bersama di luar ruang sidang.

Panitia dan petugas keamanan

Panitia dan petugas keamanan juga memiliki cerita sendiri. Mereka membutuhkan rokok yang mudah ditemukan di warung sekitar posko dan bisa menemani waktu berjaga bahkan hingga 24 jam. Djarum Coklat, Gudang Garam Merah, dan Djarum 76 Reguler termasuk pilihan yang dapat menggambarkan kebutuhan tersebut.

Santri Gaul

Santri terutama dari kalangan milenial dan Gen Z, lebih terbuka terhadap berbagai pilihan baru. Mereka mengikuti tren, aktif di media sosial, dan tidak keberatan mencoba varian rasa yang berbeda. 76 Apel/Mangga Royal dan Black Matcha misalnya, bisa menjadi gambaran pilihan rokok yang lebih kekinian.

Aktivis dan Mahasiswa NU

Kelompok ini biasanya lebih mempertimbangkan harga. Bagi mereka, rokok harus cukup terjangkau untuk menemani berbagai kegiatan seperti rapat, diskusi, nongkrong, hingga perjalanan. Tenor, Win Kretek, dan berbagai rokok lokal dengan merek unik bisa menjadi pilihannya. Tidak jarang pula rokok mereka menjadi “sedekah” karena diambil teman ketika sedang berkumpul.

Pada akhirnya, pilihan rokok hanyalah bagian kecil dari kehidupan para muktamirin selama muktamar. Perbedaan selera tersebut justru menunjukkan betapa beragamnya latar belakang peserta Muktamar NU. Dari kiai, gus, sopir, panitia, santri, hingga mahasiswa, semuanya memiliki gaya dan kebiasaan masing-masing. Yang terpenting, keberagaman itu tetap bertemu dalam semangat kebersamaan dan ukhuwah Nahdliyyah.

Artikel Lain