44 Tahun Mengukir Takdir di Malioboro, Pak Ranto Mampu Menguliahkan Anaknya Hingga Pascasarjana

Pak Ratno, pedagang malioboro yang sukses kuliahkan anaknya hingga s2

Kisah seorang pedagang Malioboro yang menjual rokok eceran sebagai sumber pemasukan utamanya. Tapi, meski begitu, ia berhasil menguliahkan anaknya hingga pascasarjana.

***

Saya merasa takjub dengan kisah Pak Ranto, seorang pedagang Malioboro yang menjual rokok eceran. Ia menapakkan kakinya di Jogja dengan beranjak dari Klaten, demi memutus rantai kemiskinan yang tidak ingin ditanggung oleh keturunannya kelak. Setiap hari dengan tanpa lelahnya, ia selalu menawarkan dagangan rokoknya kepada pengunjung wisata dan karyawan-karyawan toko.

Keranjang rokok yang ia pikul itu sudah menemani Pak Ranto berdekade lamanya. Kalau keranjang rokok itu bisa ngomong, ia akan berkata bahwa Pak Ranto ini adalah orang yang sulit untuk patah semangat.

Pak Ranto menjadi saksi hidup soal perubahan yang terjadi di Malioboro. Ia menyaksikan naik-turunnya ekonomi seseorang, merasakan pahit-manisnya berjualan, hingga kehilangan teman seperjuangan.

Kalau saya jadi Pak Ranto, mungkin saya akan kembali ke Klaten untuk mencoba berjualan lainnya.

Tetapi tidak untuk Pak Ranto. Ia memilih untuk tetap bertahan di tengah badai angin topan yang menimpa dirinya selama berjualan di Malioboro. Karena baginya: Malioboro, rokok, dan dirinya adalah jodoh.

Menyambung Hidup sebagai Pedagang Malioboro

Saya bertemu Pak Ranto di depan Hamzah Batik. Ia sedang duduk sembari menikmati bakaran tembakau gulungan, di saat karyawan toko sedang beristirahat.

Sudah lama sekali Pak Ranto menginjak Kota Pelajar. Ia hanyalah orang biasa dari Klaten yang merantau ke Jogja dengan harapan hidup yang lebih baik. Tahun 1982 menjadi tahun pertama Pak Ranto menapakkan kakinya dengan berjualan mengitari Malioboro dengan menggendong kotak box yang berisi berbagai macam rokok.

Di masa-masa awal, ia berjalan dari Alun-Alun Utara hingga Hotel Inna Garuda, demi menjualkan dagangannya. Pada era itu juga, ia merasakan masa keemasan Malioboro di mana para pedagang kaki lima masih bisa bernapas lega. Ia masih mengingat betapa eratnya persaudaraan antar pedagang asongan. Ia juga masih mengingat jelas momen-momen membahagiakan saat mendapatkan bantuan modal, amplop, dan sembako dari tokoh-tokoh penting seperti Presiden Ketujuh yang kala itu sering turun langsung menyapa pedagang kecil seperti dirinya.

Pak Ranto juga bercerita bahwa bukan hanya dia yang mengadu nasib di Jogja. Ada juga kawan-kawan sejawat lainnya yang berasal dari Tasikmalaya dan Semarang juga ikut mengadu nasib di kota ini. Jarang sekali ia menemui orang asli Jogja yang turut menjadi pedagang asongan seperti Pak Ranto.

Membawa Anak-Anaknya Lari Dari Kemiskinan

“Biar saya yang bodoh, saya orang desa, buruh tani. Tapi anak saya jangan bodoh seperti saya”. Begitulah ucap Pak Ranto, dengan nadanya yang menggebu-gebu.

Pak Ranto mungkin hanya orang biasa dari desa, namun ia memiliki komitmen yang ia pegang seumur hidup: Anakku harus sukses. Komitmen itu masih dipegang hingga saya menulis ini. Dan komitmen itu berhasil ia terapkan.

Ia mulai bercerita bagaimana dengan berjualan rokok di Malioboro, ia bisa menguliahkan gadis bungsunya itu hingga meraih gelar Magister. Betapa bahagianya Pak Ranto, dia sampai menunjukkan foto anaknya yang telah melaksanakan wisuda.

Ketika saya ditunjukkan foto tersebut, saya ikut bangga dengan anaknya Pak Ranto yang dapat merasakan bangku menara gading. Dan itu berkat hasil perjuangan dan keteguhan dirinya selama ini.

Tak hanya itu, ia juga bercerita dengan bangga dengan pria sulungnya. Pak Ranto bercerita, bahwa saat ini anak sulungnya itu sudah ada di Semarang, menjadi seorang tentara. Menyisakan putri kecilnya yang kini sudah bekerja di Jogja.

Harunya Pak Ranto terhadap kesuksesan anak-anaknya mengalir kepada saya. Bagaimana tidak, ia membuktikan bahwa menjadi seorang pedagang asongan juga tidak bisa dipandang remeh.

Bertaruh Nyawa Demi Keluarga

Puluhan tahun Pak Ranto mengitari Malioboro, banyak kepahitan yang sudah ia alami. Kepahitan itulah yang meninggalkan bekas di hati dan pikirannya. Salah satunya: Premanisme.

Pak Ranto sudah sering menemui orang-orang yang memaksa dirinya untuk memberikan rokok-rokok yang ia bawa, tanpa membayarnya. Ia terpaksa harus melakukan itu, karena biasanya orang tersebut membawa kawanannya.

Pak Ranto mungkin hanya bisa pasrah, namun esoknya ia memilih untuk melaporkan kepada pihak berwajib dan memilih untuk melawan tindakan pemalakan dan premanisme yang ia alami selama ini.

“Daripada rokok saya kamu ambil dan saya bangkrut, anak istri saya mau makan apa? Lebih baik bunuh saya sekarang,” ucap lantang Pak Ranto dengan berani.

Pak Ranto tidak hanya memikirkan beberapa bungkus rokok yang dia ambil, ia lebih memikirkan bagaimana nasib anak dan istrinya nanti, jika rokok-rokok itu habis hanya sebagai “jatah keamanan”. Ia tidak pernah mau bercerita kepada anak dan istrinya, karena ia takut bahwa anak dan istrinya tidak akan mengizinkan dirinya untuk kembali berjualan di Malioboro.

Keluarganya sempat mengetahui berita tersebut. Sampai putrinya memanggil abangnya yang seorang tentara untuk pulang ke Jogja demi menyelamatkan sang ayah.

Mengetahui hal tersebut, Pak Ranto memilih berbohong kepada anak bontotnya.

Ora, ora, iki guyon. Adimu guyonan ae, ora. (Enggak, enggak, ini cuma bercanda. Adikmu cuma bercanda, engga),” ucapnya untuk meyakinkan sang anak, agar tidak turun ke Jogja. Semua itu ia lakukan agar dirinya bisa berjualan kembali di Malioboro dan reputasi sang anak tidak hancur sesaat hanya karena dirinya.

Dari Buruh Tani Menjadi Pedagang Malioboro dan Ayah Berprestasi

Kini, setiap keringat yang ia jatuhkan di kawasan Malioboro telah berbuah manis. Semua kesengsaraan itu sudah ia tepis dengan senyum bangga yang tak ternilai harganya.

Anak-anaknya sudah mulai sukses dengan jalan hidupnya masing-masing. Ia sudah berhasil. Pak Ranto merasa bahwa cerita bahagia ini dimulai dari menjadi pedagang rokok asongan di Malioboro. Ia telah berhasil memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Baginya, Malioboro sudah bukan lagi tempat ia mengadu nasib. Kini, Malioboro di mata Pak Ranto adalah saksi bisu kesuksesan dirinya dalam mengubah nasib dirinya dan keluarganya.

Penulis: Aderifqi Dian Maulana

BACA JUGA: Aba Junaidi Sahidj: Tembakau dan Kisah Penemuan Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi)

Artikel Lain