\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5547,"post_author":"883","post_date":"2019-03-16 10:24:10","post_date_gmt":"2019-03-16 03:24:10","post_content":"\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n\n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n\n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n\n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n\n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n\n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n\n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n\n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n\n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n\n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};