Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5382,"post_author":"878","post_date":"2019-02-01 08:32:58","post_date_gmt":"2019-02-01 01:32:58","post_content":"Gumpalan asap tebal menyelimuti hampir seluruh ruangan berukuran delapan kali enam meter. Empat orang di salah satu sudut ruangan dengan benda aneh di tangan mereka masing-masing menjadi sumbernya. Asap itu mengeluarkan aroma wangi. Sangat wangi. Saya menduga itu aroma buah-buahan. Aliran asap tersebut, karakteristiknya berbeda dengan asap hasil pembakaran sebatang rokok misalnya. Itulah kali pertama saya melihat rokok elektrik atau lazim disebut vape<\/a> beberapa tahun yang lalu.<\/span>\r\n\r\nAsap yang ditimbulkan akibat aktivitas mengisap vape berbeda dengan asap yang ditimbulkan dari asap rokok. Ia bergerak cenderung horizontal dan vertikal ke bawah, sedangkan asap rokok vertikal ke atas usai dihebuskan ke arah mana saja. Setelah saya coba cari tahu, proses reaksi yang terjadi dari keduanya memang beda. Prinsip kerja rokok konvensional adalah proses pembakaran. Sedangkan pada rokok elektrik, terjadi proses penguapan menggunakan panas yang bersumber dari sebuah plat yang energi pemanasnya didapat dari baterai.<\/span>\r\n\r\nAsap hasil pembakaran dengan asap hasil penguapan memiliki masa jenis yang berbeda. Pembakaran biasanya menghasilkan asap dengan masa jenis yang lebih ringan dibanding penguapan. Dari kajian personal yang saya lakukan itu, hingga saat ini saya belum mau mencoba rokok elektrik, karena menurut pendapat pribadi saya, tubuh akan lebih berat bekerja mengolah asap hasil penguapan dibanding asap hasil reaksi pembakaran.<\/span>\r\n\r\nNamun begitu, sejak maraknya penggunaan rokok elektrik di negeri ini, terutama di beberapa kota besar di Indonesia, rokok elektrik tersebut dianggap sebagai alternatif yang lebih menyehatkan di banding rokok konvensional. Rokok elektrik dikampanyekan sebagai sarana antara bagi mereka yang ingin berhenti merokok konvensional karena dianggap mudharatnya lebih kecil dibanding rokok konvensional. <\/span>\r\nApa benar seperti itu?<\/span><\/h3>\r\nBelum terlalu banyak riset mendalam dilakukan guna mengetahui manfaat dari rokok elektrik dan terutama risiko-risiko yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk yang familiar disebut vape itu. Ini berbeda jauh dengan riset terkait rokok konvensional. Sudah cukup banyak. Baik yang bernada positif, lebih-lebih yang bernada negatif dan adakalanya tidak cukup berimbang.<\/span>\r\n\r\nBeberapa riset yang pernah dilakukan tersebut di antaranya adalah riset selama tiga tahun yang dilakukan oleh pihak Universitas Catania di Italia. Pada 2017, mereka merilis hasil riset yang menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menimbulkan risiko\u00a0kesehatan\u00a0serius dibandingkan dengan rokok biasa yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Riset tesebut menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menyebabkan masalah pada paru-paru, bahkan pada konsumen yang menggunakan rokok elektrik secara reguler, hal ini dilihat dari sisi fisiologis, klinis, ataupun inflamasi. <\/span>\r\n\r\n\"Kami tidak menemukan bukti adanya masalah\u00a0kesehatan, terkait penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang berdasarkan riset kami,\" kata Riccardo Polosa, Direktur Universitas Catania di\u00a0Italia.<\/span>\r\n\r\nLaporan ini merupakan hasil studi selama 3,5 tahun dengan menyasar pengguna\u00a0vape\u00a0pada usia 23-35 tahun, serta menyasar sekelompok orang non-perokok lainnya dengan rentang usia yang sama. (<\/span>http:\/\/www.tribunnews.com\/lifestyle\/2017\/12\/20\/riset-dari-italia-sebut-rokok-elektrik-minimalisir-risiko-kesehatan-secara-signifikan<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya, tim peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) bekerja sama dengan Universitas Padjajaran. Tim ini melakukan riset bersama mengenai apa yang terjadi di rongga mulut ketika seseorang merokok.<\/span>\r\n\r\n\"Kajian di rongga mulut pada sel yang kita ambil dari dalam pipi. Itu kita kerok lalu diteliti di bawah mikroskop, itu memperlihatkan perilaku sel,\" papar Amaliya, salahseorang peneliti YPKP dalam sebuah diskusi di Jakarta.<\/span>\r\n\r\nAmaliya melanjutkan, ketika banyak inti-inti kecil sel yang mengelilingi inti besar, hal tersebut menunjukkan ketidakstabilan sel. Sel itu dapat berupa menjadi keganasan berupa tumor, kanker, dan penyakit lainnya.<\/span>\r\n\r\n\"Tapi untuk pengguna rokok eletrik (rotrik) ketidakstabilan sel ini tidak terlihat,\" jelas dia.<\/span>\r\n\r\n\"Kita bisa melihat paparan zat bahayanya berkurang, sampai tinggal hanya lima persen, sehingga sel menjadi stabil ketika membelah sudah lebih baik dan normal dibanding rokok konvensional,\" jelasnya.<\/span>\r\n\r\nAmaliyah menjelaskan, baik rokok konvensional ataupun elektrik memang tidak sehat. Hanya saja, jika ingin mengurangi bahaya kesehatan dapat beralih ke rotrik (rokok elektrik). Melalui penelitian di Inggris, tambah Amaliyah, rokok konvensional mempunyai zat berbahaya sampai risiko keselamatan 100 perse dibanding vape.<\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.jawapos.com\/kesehatan\/health-issues\/30\/01\/2018\/hasil-riset-dibanding-rokok-konvensional-vape-ternyata-tak-berbahaya<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nAkan tetapi, tidak semua hasil penelitian mengenai rokok elektrik melulu bernada positif. Penelitian yang dilakukan oleh dr. Nauki Kunugita dari National Institute of Public Health di Jepang misalnya, menurut hasil penelitiannya, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat\u00a0karsinogen\u00a0(kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA, mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa. <\/span>\r\n
Menurut Irina Petrache, dokter dan spesialis paru-paru di Indiana University, Indianapolis, dan tim peneliti yang dibentuknya menyimpulkan bahwa vaping tidak lebih baik dari merokok, jika menyangkut kesehatan paru-paru.<\/span><\/blockquote>\r\nPada penelitian yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham, para peneliti membuat sebuah alat meniru seseorang sedang mengisap rokok elektrik dengan melibatkan sampel organ tubuh dari delapan orang non-perokok. Para peneliti kemudian menemukan asap rokok elektrik menyebabkan pembengkakan dan merusak aktivitas\u00a0<\/span>alveolar macrophages<\/span><\/i>\u2014sel-sel yang berpotensi melawan partikel debu, bakteri, dan pemicu alergi. (<\/span>https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/majalah-45178673<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya masih mengenai rokok elektrik, Sven Jordt, salah satu peneliti dalam laporan yang dirilis Kamis (18\/10\/2018) di jurnal Nicotine and Tobacco Research menyebutkan bahwa perisa kimia dan pelarut, (yang membentuk) cairan itu, dan berada di dalam rokok elektrik, mereka bisa membentuk senyawa kimia baru. Jordt yang merupakan pengajar ilmu anestesi, farmasi, dan\u00a0<\/span>cancer biology<\/span><\/i>di Fakultas Kedokteran Duke University melanjutkan, \u201cSenyawa-senyawa baru ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan pemakai rokok elektrik. Hidung, mulut, dan tenggorokan kita memiliki ujung saraf yang bisa merasakan kandungan kimia yang menyakitkan atau pedih dalam udara yang dihirup. Misalnya rasa panas dan menyengat saat mengisap rokok, dimediasi oleh ujung saraf ini. Ujung-ujung saraf tersebut juga bisa memicu bersin dan batuk, pada dasarnya untuk menjaga paru-paru dari zat kimia beracun yang dihirup.\u201d <\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.beritasatu.com\/kesehatan\/517337-penelitian-terbaru-ungkap-risiko-rokok-elektrik.html<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nItulah sedikit yang bisa disimak dari hasil riset terkait rokok elektrik. Klaim-klaim lebih sehat dan lebih baik dan lebih berisiko kecil dan lain sebagainya, belum bisa dipastikan dan belum tentu benar. Bahkan malah mungkin sekali jauh lebih berbahaya. Saya kira, merokok elektrik dan merokok konvensional, adalah hak yang sama-sama dilindungi oleh negara. Yang kurang bijak adalah, mengklaim lebih baik dan lebih menyehatkan sembari menjatuhkan lainnya. Padahal itu sama sekali belum benar-benar terbukti. <\/span>","post_title":"Riset Kesehatan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"riset-kesehatan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-01 08:33:58","post_modified_gmt":"2019-02-01 01:33:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5382","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n
Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n
Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n
Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\nRokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n
Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5364,"post_author":"878","post_date":"2019-01-28 16:33:44","post_date_gmt":"2019-01-28 09:33:44","post_content":"Sebagai representasi tertinggi penjajah kolonial Belanda<\/a> di negeri ini, Gubernur Jenderal\u00a0Johannes van den Bosch pada 1830 mengeluarkan aturan yang disebut <\/span>cultuurstelsel<\/span><\/i> atau tanam paksa. Peraturan ini mewajibkan setiap penduduk desa menyisihkan 20 persen tanahnya untuk ditanami tanaman-tanaman yang laris di pasar internasional. Ini du luar pajak yang masih harus dibayarkan oleh pemilik tanah termasuk tanah yang digunakan untuk tanam paksa. Hasil panen dari lahan itu seluruhnya mesti diserahkan kepada pemerintahan kolonial. Bagi penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.<\/span>\r\n\r\nKebijakan ini diambil pemerintah kolonial karena besarnya biaya yang sebelumnya mereka keluarkan untuk Perang Jawa menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro<\/a>. Pada perang yang berlangsung sepanjang lima tahun itu, pemerintahan kolonial hampir kalah dan mendekati kebangkrutan karena besarnya biaya perang yang mereka keluarkan. Kebijakan tanam paksa ini menjadi satu dari sekian banyak periode gelap penjajahan Belanda di nusantara.<\/span>\r\n\r\nSebagai wilayah yang masuk dalam area penjajahan Belanda, Jember tak lepas dari kebijakan tanam paksa. Karena wilayahnya yang masih sepi penduduk, para pekerja yang tidak memiliki lahan di Pulau Madura dan wilayah Pulau Jawa lainnya dikirim ke Jember untuk menggarap lahan-lahan pertanian dan perkebunan di sana. Kopi, tebu, dan karet menjadi komoditas yang wajib ditanam pada masa tanam paksa karena permintaan tinggi pasar internasional. Untuk wilayah Jember dan beberapa wilayah lainnya, tembakau menjadi komoditas tambahan karena permintaannya juga cukup tinggi. Pemasukan besar dari wilayah-wilayah tanam paksa membikin pemerintah kolonial meraup keuntungan besar dari sebelumnya hampir merugi. Keuntungan besar inilah yang membikin penjajah Belanda mempertahankan sistem tanam paksa ini hingga 40 tahun lamanya. <\/span>\r\n\r\nGelombang besar kedatangan pekerja perkebunan ke Jember kian masif ketika George Birnie dan dua orang rekannya membuka usaha perkebunan tembakau pada 21 Oktober 1859 di beberapa kecamatan di Jember. Lewat perusahaan perkebunan Landbouw Maatschapij Oud Djember<\/span>\u00a0<\/span><\/i>(LMOD), Birnie dan rekan-rekan memulai usaha penanaman tembakau di wilayah Jember.<\/span>\r\n\u201cTembakau dari Jember itu tidak kalah dengan cerutu Kuba maupun Amerika. Jadi, Jember adalah penghasil cerutu terbaik nomor satu di Indonesia dan nomor dua di dunia setelah Kuba,\u201d tutur Birnie yang dikutip dari buku berjudul Djember Tempo Doeloe.<\/span><\/blockquote>\r\nTiga tahun pertama usaha perkebunan tembakau, LMOD belum mendapatkan keuntungan apa-apa. Keuntungan mulai mereka dapat pada tahun 1862 dan terus begitu pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1870, sistem tanam paksa dihentikan, perubahan pengelolaan perkebunan ke arah yang lebih profesional mulai dikembangkan. Pada tahun 1879 hingga 1882 LMOD mengalami kerugian besar akibat kualitas daun tembakau yang buruk karena kondisi cuaca dan serangan hama.<\/span>\r\n\r\n
Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nUsaha perkebunan tembakau ini kembali menguntungkan usai dibangunnya jalur kereta yang menghubungkan Jember dan Surabaya serta Jember dan Panarukan pada akhir abad 19. Ini terjadi secara konstan hingga kedatangan Jepang pada periode 1940an. Usai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, perusahaan-perusahaan perkebunan di Jember kembali bergeliat. Perusahaan-perusahaan milik asing terutama Belanda kembali berjaya diiringi dengan munculnya perkebunan-perkebunan milik pengusaha lokal dan perkebunan rakyat.<\/span>\r\n\r\nKejayaan perusahaan asing berakhir pada 1959 ketika pemerintahan Soekarno menasionalisasi seluruh perusahaan asing yang ada di negeri ini. Nasionalisasi ini juga menjadi cikal bakal beberapa PTPN yang tersebar di banyak tempat di negeri ini. Meskipun begitu, citra Jember sebagai salah satu wilayah unggulan penghasil tembakau di negeri ini masih terus bertahan. Bahkan hingga kejatuhan pasar tembakau dunia pada 1970, Jember masih terus bertahan dengan komoditas tembakaunya<\/strong>. Perkebunan-perkebunan rakyat yang mengambil peran sentral ini, sedangkan perkebunan-perkebunan milik pemerintah lewat PTPN meninggalkan komoditas tembakau dan memilih komoditas lain semisal kopi, tebu dan karet, serta beberapa tanaman kayu keras jangka panjang.<\/span>\r\n\r\nKejayaan tembakau Jember kembali mencapai titik puncaknya ketika produksi rokok kretek nasional kian meningkat seiring permintaan tinggi rokok kretek di pasar nasional. Periode 1970 hingga 1980an menjadi periode transisi massal perubahan pola merokok konsumen rokok Indonesia dari rokok putih ke rokok kretek. Selain permintaan untuk bahan baku rokok kretek, perkebunan tembakau di Jember juga berkembang karena produksi tembakau yang dikhususkan untuk bahan baku cerutu. Untuk tembakau jenis ini, selain memenuhi permintaan dalam negeri, utamanya juga diekspor ke luar negeri karena kualitasnya yang sangat baik.<\/span>\r\n\r\nTren ini terjadi cukup panjang hingga saat ini. Usaha perkebunan tembakau di Jember masih terus bergeliat. Gangguan-gangguan yang diterima petani tembakau di Jember biasanya datang dari kondisi cuaca, serangan hama, dan kebijakan yang seringkali tidak menguntungkan mereka. Dengan kondisi seperti sekarang ini, tentu saja kita semua berharap pertanian tembakau yang menguntungkan petani-petani di Jember tetap bertahan dan tetap menguntungkan mereka. Kampanye-kampanye dan kebijakan-kebijakan yang mengancam keberlangsungan pertanian mereka, sudah semestinya dilawan agar petani tetap terus merasakan kesejahteraan dari manisnya hasil pertanian tembakau.<\/span>","post_title":"Pasang Surut Perkebunan Tembakau di Jember","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pasang-surut-perkebunan-tembakau-di-jember","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-28 16:35:03","post_modified_gmt":"2019-01-28 09:35:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5364","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5351,"post_author":"878","post_date":"2019-01-25 07:00:58","post_date_gmt":"2019-01-25 00:00:58","post_content":"Jumat, 18 Januari 2019, selepas isya, hujan yang mengguyur beberapa wilayah di Kabupaten Jember baru saja reda. Gedung-gedung, pepohonan, trotoar, dan jalan raya masih basah akibat hujan. Genangan air muncul di beberapa sudut ruas jalan yang berhimpitan dengan trotoar. Aroma petrikor menguar di udara Kota Jember.<\/span>\r\n\r\nMengendarai sepeda motor, saya melintasi jalan raya Jember meninggalkan stasiun Jember<\/a> menuju Kecamatan Arjasa. Usai singgah sejenak di Arjasa, saya melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Kalisat, masih di Kabupaten Jember. Malam itu saya dan Lala, istri saya, memang sudah merencanakan untuk bermalam di Kalisat, di kediaman salah seorang rekan yang berprofesi sebagai wartawan dan sejarawan yang mengkhususkan diri untuk meneliti sejarah Kecamatan Kalisat dan Kabupaten Jember.<\/span>\r\n\r\nDi sepanjang jalan menuju Kalisat, di kiri dan kanan jalan kami menemui banyak bangunan besar peninggalan Belanda. Bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Sejak dahulu hingga kini, bangunan-bangunan itu difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan tembakau yang baru dipanen dari perkebunan tembakau yang banyak terdapat di Kabupaten Jember. Selain di Kalisat, di beberapa wilayah lain di Kabupaten Jember kami juga menemukan bangunan yang sama.<\/span>\r\nMeskipun tidak sedang dalam masa tanam dan panen tembakau karena masa tanam dan panen tembakau sudah lewat beberapa bulan yang lalu, aroma tembakau masih tercium hingga ke jalan raya tak jauh dari bangunan-bangunan gudang itu. Aroma tembakau bercampur dengan aroma petrikor yang tercium hidung bagi saya sangat menyegarkan.<\/span><\/blockquote>\r\nJember memang tak bisa dipisahkan dari tembakau. Wilayah ini begitu terkait erat dan berpilin-berkelindan perkembangannya bersama perkebunan tembakau. Kurang tepat memang jika menyebut wilayah Jember terbentuk karena perkebunan tembakau, namun, yang pasti wilayah Jember tumbuh dan berkembang pesat bersama pertumbuhan dan perkembangan perkebunan tembakau. Tanpa mengecilkan perkebunan-perkebunan lain yang juga berkembang di sana, tembakau memang menjadi ujung tombak perkebunan di wilayah Jember, sejak dulu hingga kini.<\/span>\r\n\r\nTak ada yang tahu pasti sejak kapan tembakau ditanam di wilayah Jember, sejarah mencatat, perkebunan tembakau berkembang pesat sejak tahun 1850-an, tepatnya sejak George Birnie, seorang warga negara Belanda keturunan Skotlandia mendirikan perusahaan perkebunan tembakau bernama Lanbhouw Maaschappij Oud Djember pada 21 Oktober 1859. Pesatnya perkembangan usaha perkebunan tembakau di Jember mengundang banyak pendatang baru ke wilayah Jember dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa semisal Lumajang, Blitar, Kediri, dan Ponorogo. <\/span>\r\n\r\nPerkembangan perkebunan tembakau di wilayah Jember menyebabkan lonjakan penduduk Jember sangat spektakuler karena kedatangan pekerja dari luar Jember. Pada tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang dan pada tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang (Pertumbuhan Kota Jember dan Munculnya Budaya Pandhalungan, Makalah Presentasi Konferensi Nasional Sejarah VIII, Drs. Edy Burhan Arifin, S, Dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Jember, Jakarta 2006).<\/span>\r\n\r\nMenurut catatan Pemerintah Kabupaten Jember pada laman resminya, pada 1805 penduduk Jember hanya sekitar 5000 jiwa, berkembang pesat mendekati satu juta jiwa pada akhir abad 19.<\/strong> Pemerintah Kabupaten Jember sampai mendaulat George Birnie sebagai Bapak Jember Modern karena keberhasilannya mengembangkan perkebunan tembakau di Jember hingga mendatangkan banyak penduduk baru ke wilayah tersebut.<\/span>\r\n\r\nDampak lain dari kedatangan pekerja ke wilayah Jember usai pembukaan perkebunan tembakau di sana, selain pesatnya perkembangan perkebunan tembakau hingga menyebabkan Jember menjadi salah satu wilayah andalan pemerintahan kolonial Belanda untuk menghasilkan tembakau yang diekspor ke Bremen, Jerman, adalah munculnya kebudayaan baru di wilayah Jember yang dibentuk berdasar asimilasi para pendatang dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa. Kebudayaan dan adat istiadat tersebut kerap disebut sebagai Pendhalungan, perpaduan antara Madura dan Jawa hingga menghasilkan budaya dan tradisi baru.<\/span>\r\n\r\nBerawal dari pembukaan perkebunan tembakau, wilayah Jember berkembang pesat hingga saat ini dengan tetap menyematkan identitas tembakau dalam perjalanan perkembangan wilayahnya. Jika ingin melihat wilayah yang tumbuh dan berkembang beriringan dengan budidaya perkebunan tembakau, tak bisa dimungkiri, Jember mesti disebut paling awal, karena Jember dan tembakau, saling terkait dan berkembang beriringan.<\/span>","post_title":"Jember, Wilayah yang Dibesarkan oleh Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jember-wilayah-yang-dibesarkan-oleh-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-25 03:48:57","post_modified_gmt":"2019-01-24 20:48:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5351","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5348,"post_author":"878","post_date":"2019-01-24 08:25:38","post_date_gmt":"2019-01-24 01:25:38","post_content":"Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)<\/a> merupakan hasil pungutan oleh negara di luar pajak yang diambil dari hasil olahan tembakau dalam bentuk cukai. Pengelolaan dan pengaturannya di bawah wewenang negara lewat representasi kementerian keuangan. Cukai merupakan salah satu penerimaan rutin negara yang persentasenya setiap tahun mencapai sekitar 10 persen dari total penerimaan negara. Dari total 10 persen penerimaan cukai itu, lebih dari sembilan persennya didapat dari cukai olahan tembakau yang langsung dipungut dari setiap batang rokok yang dibeli konsumen.<\/span>\r\n\r\nBerdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222\/PMK.07\/2017 tentang penggunaan, pemantauan, dan evaluasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau, pada Bab II, perihal penggunaan DBHCHT, pasal 2 poin 1, 2, dan 3, DBHCHT digunakan untuk mendanai program\/kegiatan:<\/span>\r\n
\r\n \t
Lalu bagaimana dampak DBHCHT kepada petani tembakau dan cengkeh di negeri ini? <\/span><\/h4>\r\nTentu saja besarnya dana yang dihasilkan dari Industri Hasil Tembakau lewat skema cukai dan pajak tak bisa dilepaskan dari peran sentral petani tembakau<\/a> dan cengkeh di negeri ini. Produk rokok kretek yang menjadi primadona di negeri ini, bahan bakunya didapat dari para petani tembakau dan petani cengkeh di penjuru nusantara.<\/span>\r\n\r\nMemang ada amanah penggunaan DBHCHT untuk peningkatan kualitas bahan baku. Akan tetapi skema yang berjalan kini, mentok di penyuluh-penyuluh pertanian dan tidak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Sering kali penyuluh pertanian memberikan masukan-masukan yang kontradiktif dengan fakta di lapangan yang ditemukan petani. Alih-alih meningkatkan kualitas bahan baku, para petani sekadar dibebankan membeli pupuk bersubsidi yang dananya diambil dari DBHCHT. Yang paling parah, tentu saja dialami oleh petani-petani cengkeh yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan. Banyak dari mereka yang sama sekali belum merasakan langsung DBHCHT yang semestinya mereka terima sesuai amanat peraturan pemerintah.<\/span>\r\n\r\nKontradiksi lainnya yang lumrah terjadi di lapangan, DBHCHT malah digunakan untuk melakukan sosialisasi dan membeli bibit baru sebagai ganti tanaman tembakau dan cengkeh yang merupakan bahan baku rokok kretek. Alih-alih meningkatkan kualitas bahan baku, petani dipaksa untuk mengganti tanaman tembakau dan cengkeh mereka dengan tanaman lainnya yang tidak berhubungan dengan industri hasil tembakau dengan alasan kesehatan.<\/span>\r\n\r\nMaka sudah saatnya kini petani sebagai produsen bahan baku industri yang mampu menyumbangkan pemasukan besar bagi negara merasakan langsung DBHCHT tersebut. Bukan lagi skema tipu-tipu yang kontradiktif dan malah merugikan mereka. Salah satu skema yang tepat menurut kami dan tidak bertentangan dengan peraturan menteri keuangan terkait penggunaan DBHCHT adalah, dana tersebut dialokasikan khusus untuk mendaftarkan dan membayar iuran BPJS para petani tembakau dan cengkeh di negeri ini. Lewat skema ini, bukan hanya tepat sasaran dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh petani dan keluarga mereka, namun ini juga sesuai dengan amanat undang-undang dan tidak melenceng dari peraturan yang ada.<\/strong><\/span>","post_title":"Seharusnya DBHCHT untuk Membayar BPJS Petani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"seharusnya-dbhcht-untuk-membayar-bpjs-petani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-24 08:26:09","post_modified_gmt":"2019-01-24 01:26:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5348","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau. Jika ditanam pada musim hujan, hampir bisa dipastikan tanaman tembakau akan gagal menghasilkan daun-daun yang berkualitas. Ia akan rusak dan membusuk karena terlalu banyak terkena air sehingga daun-daun itu tak layak dijual. Jangankan bisa dijual, untuk tumbuh dengan baik pun sepertinya sulit karena musim hujan akan membunuh banyak tanaman itu.<\/p>\n\n\n\n Maka, tak heran pada musim-musim seperti saat ini, ketika musim penghujan mendekati puncaknya, di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau, sulit menemukan pohon tembakau yang sedang tumbuh. Pada lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman tembakau pada musim panas, berganti tanaman-tanaman lain yang bermacam-macam, sesuai dengan kondisi lahannya. Untuk lahan sawah, lahan-lahan itu pada musim penghujan kini ditumbuhi tanaman padi yang subur. Pada lahan tegalan dan lahan di pegunungan, lahan-lahan yang ditanami tembakau pada musim kemarau, saat ini ditumbuhi bermacam jenis tanaman mulai dari cabai, bawang, tomat, kol, terong, mentimun, dan ragam jenis tanaman semusim lainnya.<\/p>\n\n\n\n Uniknya, tipikal tanaman tembakau yang tumbuh baik di musim kemarau ini memberi pilihan lebih kepada para petani. Lahan-lahan yang sulit ditanami pada musim kemarau, pada akhirnya masih bisa tetap produktif dengan keberadaan tanaman tembakau. <\/p>\n\n\n\n Maka, kampanye aneh mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain dengan ragam rupa dalih yang membingungkan, bukan saja sama sekali tidak tepat dan asal-asalan, namun bisa jadi akan ditertawakan oleh para petani yang begitu paham dengan kondisi lahan dan terutama kondisi iklim dan cuaca. Sulit mencari tanaman semusim yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Jika pun ada, tak ada yang semenguntungkan tanaman tembakau.
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5382,"post_author":"878","post_date":"2019-02-01 08:32:58","post_date_gmt":"2019-02-01 01:32:58","post_content":"Gumpalan asap tebal menyelimuti hampir seluruh ruangan berukuran delapan kali enam meter. Empat orang di salah satu sudut ruangan dengan benda aneh di tangan mereka masing-masing menjadi sumbernya. Asap itu mengeluarkan aroma wangi. Sangat wangi. Saya menduga itu aroma buah-buahan. Aliran asap tersebut, karakteristiknya berbeda dengan asap hasil pembakaran sebatang rokok misalnya. Itulah kali pertama saya melihat rokok elektrik atau lazim disebut vape<\/a> beberapa tahun yang lalu.<\/span>\r\n\r\nAsap yang ditimbulkan akibat aktivitas mengisap vape berbeda dengan asap yang ditimbulkan dari asap rokok. Ia bergerak cenderung horizontal dan vertikal ke bawah, sedangkan asap rokok vertikal ke atas usai dihebuskan ke arah mana saja. Setelah saya coba cari tahu, proses reaksi yang terjadi dari keduanya memang beda. Prinsip kerja rokok konvensional adalah proses pembakaran. Sedangkan pada rokok elektrik, terjadi proses penguapan menggunakan panas yang bersumber dari sebuah plat yang energi pemanasnya didapat dari baterai.<\/span>\r\n\r\nAsap hasil pembakaran dengan asap hasil penguapan memiliki masa jenis yang berbeda. Pembakaran biasanya menghasilkan asap dengan masa jenis yang lebih ringan dibanding penguapan. Dari kajian personal yang saya lakukan itu, hingga saat ini saya belum mau mencoba rokok elektrik, karena menurut pendapat pribadi saya, tubuh akan lebih berat bekerja mengolah asap hasil penguapan dibanding asap hasil reaksi pembakaran.<\/span>\r\n\r\nNamun begitu, sejak maraknya penggunaan rokok elektrik di negeri ini, terutama di beberapa kota besar di Indonesia, rokok elektrik tersebut dianggap sebagai alternatif yang lebih menyehatkan di banding rokok konvensional. Rokok elektrik dikampanyekan sebagai sarana antara bagi mereka yang ingin berhenti merokok konvensional karena dianggap mudharatnya lebih kecil dibanding rokok konvensional. <\/span>\r\nApa benar seperti itu?<\/span><\/h3>\r\nBelum terlalu banyak riset mendalam dilakukan guna mengetahui manfaat dari rokok elektrik dan terutama risiko-risiko yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk yang familiar disebut vape itu. Ini berbeda jauh dengan riset terkait rokok konvensional. Sudah cukup banyak. Baik yang bernada positif, lebih-lebih yang bernada negatif dan adakalanya tidak cukup berimbang.<\/span>\r\n\r\nBeberapa riset yang pernah dilakukan tersebut di antaranya adalah riset selama tiga tahun yang dilakukan oleh pihak Universitas Catania di Italia. Pada 2017, mereka merilis hasil riset yang menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menimbulkan risiko\u00a0kesehatan\u00a0serius dibandingkan dengan rokok biasa yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Riset tesebut menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menyebabkan masalah pada paru-paru, bahkan pada konsumen yang menggunakan rokok elektrik secara reguler, hal ini dilihat dari sisi fisiologis, klinis, ataupun inflamasi. <\/span>\r\n\r\n\"Kami tidak menemukan bukti adanya masalah\u00a0kesehatan, terkait penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang berdasarkan riset kami,\" kata Riccardo Polosa, Direktur Universitas Catania di\u00a0Italia.<\/span>\r\n\r\nLaporan ini merupakan hasil studi selama 3,5 tahun dengan menyasar pengguna\u00a0vape\u00a0pada usia 23-35 tahun, serta menyasar sekelompok orang non-perokok lainnya dengan rentang usia yang sama. (<\/span>http:\/\/www.tribunnews.com\/lifestyle\/2017\/12\/20\/riset-dari-italia-sebut-rokok-elektrik-minimalisir-risiko-kesehatan-secara-signifikan<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya, tim peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) bekerja sama dengan Universitas Padjajaran. Tim ini melakukan riset bersama mengenai apa yang terjadi di rongga mulut ketika seseorang merokok.<\/span>\r\n\r\n\"Kajian di rongga mulut pada sel yang kita ambil dari dalam pipi. Itu kita kerok lalu diteliti di bawah mikroskop, itu memperlihatkan perilaku sel,\" papar Amaliya, salahseorang peneliti YPKP dalam sebuah diskusi di Jakarta.<\/span>\r\n\r\nAmaliya melanjutkan, ketika banyak inti-inti kecil sel yang mengelilingi inti besar, hal tersebut menunjukkan ketidakstabilan sel. Sel itu dapat berupa menjadi keganasan berupa tumor, kanker, dan penyakit lainnya.<\/span>\r\n\r\n\"Tapi untuk pengguna rokok eletrik (rotrik) ketidakstabilan sel ini tidak terlihat,\" jelas dia.<\/span>\r\n\r\n\"Kita bisa melihat paparan zat bahayanya berkurang, sampai tinggal hanya lima persen, sehingga sel menjadi stabil ketika membelah sudah lebih baik dan normal dibanding rokok konvensional,\" jelasnya.<\/span>\r\n\r\nAmaliyah menjelaskan, baik rokok konvensional ataupun elektrik memang tidak sehat. Hanya saja, jika ingin mengurangi bahaya kesehatan dapat beralih ke rotrik (rokok elektrik). Melalui penelitian di Inggris, tambah Amaliyah, rokok konvensional mempunyai zat berbahaya sampai risiko keselamatan 100 perse dibanding vape.<\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.jawapos.com\/kesehatan\/health-issues\/30\/01\/2018\/hasil-riset-dibanding-rokok-konvensional-vape-ternyata-tak-berbahaya<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nAkan tetapi, tidak semua hasil penelitian mengenai rokok elektrik melulu bernada positif. Penelitian yang dilakukan oleh dr. Nauki Kunugita dari National Institute of Public Health di Jepang misalnya, menurut hasil penelitiannya, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat\u00a0karsinogen\u00a0(kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA, mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa. <\/span>\r\n
Menurut Irina Petrache, dokter dan spesialis paru-paru di Indiana University, Indianapolis, dan tim peneliti yang dibentuknya menyimpulkan bahwa vaping tidak lebih baik dari merokok, jika menyangkut kesehatan paru-paru.<\/span><\/blockquote>\r\nPada penelitian yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham, para peneliti membuat sebuah alat meniru seseorang sedang mengisap rokok elektrik dengan melibatkan sampel organ tubuh dari delapan orang non-perokok. Para peneliti kemudian menemukan asap rokok elektrik menyebabkan pembengkakan dan merusak aktivitas\u00a0<\/span>alveolar macrophages<\/span><\/i>\u2014sel-sel yang berpotensi melawan partikel debu, bakteri, dan pemicu alergi. (<\/span>https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/majalah-45178673<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya masih mengenai rokok elektrik, Sven Jordt, salah satu peneliti dalam laporan yang dirilis Kamis (18\/10\/2018) di jurnal Nicotine and Tobacco Research menyebutkan bahwa perisa kimia dan pelarut, (yang membentuk) cairan itu, dan berada di dalam rokok elektrik, mereka bisa membentuk senyawa kimia baru. Jordt yang merupakan pengajar ilmu anestesi, farmasi, dan\u00a0<\/span>cancer biology<\/span><\/i>di Fakultas Kedokteran Duke University melanjutkan, \u201cSenyawa-senyawa baru ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan pemakai rokok elektrik. Hidung, mulut, dan tenggorokan kita memiliki ujung saraf yang bisa merasakan kandungan kimia yang menyakitkan atau pedih dalam udara yang dihirup. Misalnya rasa panas dan menyengat saat mengisap rokok, dimediasi oleh ujung saraf ini. Ujung-ujung saraf tersebut juga bisa memicu bersin dan batuk, pada dasarnya untuk menjaga paru-paru dari zat kimia beracun yang dihirup.\u201d <\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.beritasatu.com\/kesehatan\/517337-penelitian-terbaru-ungkap-risiko-rokok-elektrik.html<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nItulah sedikit yang bisa disimak dari hasil riset terkait rokok elektrik. Klaim-klaim lebih sehat dan lebih baik dan lebih berisiko kecil dan lain sebagainya, belum bisa dipastikan dan belum tentu benar. Bahkan malah mungkin sekali jauh lebih berbahaya. Saya kira, merokok elektrik dan merokok konvensional, adalah hak yang sama-sama dilindungi oleh negara. Yang kurang bijak adalah, mengklaim lebih baik dan lebih menyehatkan sembari menjatuhkan lainnya. Padahal itu sama sekali belum benar-benar terbukti. <\/span>","post_title":"Riset Kesehatan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"riset-kesehatan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-01 08:33:58","post_modified_gmt":"2019-02-01 01:33:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5382","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n
Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n
Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n
Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\nRokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n
Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5364,"post_author":"878","post_date":"2019-01-28 16:33:44","post_date_gmt":"2019-01-28 09:33:44","post_content":"Sebagai representasi tertinggi penjajah kolonial Belanda<\/a> di negeri ini, Gubernur Jenderal\u00a0Johannes van den Bosch pada 1830 mengeluarkan aturan yang disebut <\/span>cultuurstelsel<\/span><\/i> atau tanam paksa. Peraturan ini mewajibkan setiap penduduk desa menyisihkan 20 persen tanahnya untuk ditanami tanaman-tanaman yang laris di pasar internasional. Ini du luar pajak yang masih harus dibayarkan oleh pemilik tanah termasuk tanah yang digunakan untuk tanam paksa. Hasil panen dari lahan itu seluruhnya mesti diserahkan kepada pemerintahan kolonial. Bagi penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.<\/span>\r\n\r\nKebijakan ini diambil pemerintah kolonial karena besarnya biaya yang sebelumnya mereka keluarkan untuk Perang Jawa menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro<\/a>. Pada perang yang berlangsung sepanjang lima tahun itu, pemerintahan kolonial hampir kalah dan mendekati kebangkrutan karena besarnya biaya perang yang mereka keluarkan. Kebijakan tanam paksa ini menjadi satu dari sekian banyak periode gelap penjajahan Belanda di nusantara.<\/span>\r\n\r\nSebagai wilayah yang masuk dalam area penjajahan Belanda, Jember tak lepas dari kebijakan tanam paksa. Karena wilayahnya yang masih sepi penduduk, para pekerja yang tidak memiliki lahan di Pulau Madura dan wilayah Pulau Jawa lainnya dikirim ke Jember untuk menggarap lahan-lahan pertanian dan perkebunan di sana. Kopi, tebu, dan karet menjadi komoditas yang wajib ditanam pada masa tanam paksa karena permintaan tinggi pasar internasional. Untuk wilayah Jember dan beberapa wilayah lainnya, tembakau menjadi komoditas tambahan karena permintaannya juga cukup tinggi. Pemasukan besar dari wilayah-wilayah tanam paksa membikin pemerintah kolonial meraup keuntungan besar dari sebelumnya hampir merugi. Keuntungan besar inilah yang membikin penjajah Belanda mempertahankan sistem tanam paksa ini hingga 40 tahun lamanya. <\/span>\r\n\r\nGelombang besar kedatangan pekerja perkebunan ke Jember kian masif ketika George Birnie dan dua orang rekannya membuka usaha perkebunan tembakau pada 21 Oktober 1859 di beberapa kecamatan di Jember. Lewat perusahaan perkebunan Landbouw Maatschapij Oud Djember<\/span>\u00a0<\/span><\/i>(LMOD), Birnie dan rekan-rekan memulai usaha penanaman tembakau di wilayah Jember.<\/span>\r\n\u201cTembakau dari Jember itu tidak kalah dengan cerutu Kuba maupun Amerika. Jadi, Jember adalah penghasil cerutu terbaik nomor satu di Indonesia dan nomor dua di dunia setelah Kuba,\u201d tutur Birnie yang dikutip dari buku berjudul Djember Tempo Doeloe.<\/span><\/blockquote>\r\nTiga tahun pertama usaha perkebunan tembakau, LMOD belum mendapatkan keuntungan apa-apa. Keuntungan mulai mereka dapat pada tahun 1862 dan terus begitu pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1870, sistem tanam paksa dihentikan, perubahan pengelolaan perkebunan ke arah yang lebih profesional mulai dikembangkan. Pada tahun 1879 hingga 1882 LMOD mengalami kerugian besar akibat kualitas daun tembakau yang buruk karena kondisi cuaca dan serangan hama.<\/span>\r\n\r\n
Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nUsaha perkebunan tembakau ini kembali menguntungkan usai dibangunnya jalur kereta yang menghubungkan Jember dan Surabaya serta Jember dan Panarukan pada akhir abad 19. Ini terjadi secara konstan hingga kedatangan Jepang pada periode 1940an. Usai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, perusahaan-perusahaan perkebunan di Jember kembali bergeliat. Perusahaan-perusahaan milik asing terutama Belanda kembali berjaya diiringi dengan munculnya perkebunan-perkebunan milik pengusaha lokal dan perkebunan rakyat.<\/span>\r\n\r\nKejayaan perusahaan asing berakhir pada 1959 ketika pemerintahan Soekarno menasionalisasi seluruh perusahaan asing yang ada di negeri ini. Nasionalisasi ini juga menjadi cikal bakal beberapa PTPN yang tersebar di banyak tempat di negeri ini. Meskipun begitu, citra Jember sebagai salah satu wilayah unggulan penghasil tembakau di negeri ini masih terus bertahan. Bahkan hingga kejatuhan pasar tembakau dunia pada 1970, Jember masih terus bertahan dengan komoditas tembakaunya<\/strong>. Perkebunan-perkebunan rakyat yang mengambil peran sentral ini, sedangkan perkebunan-perkebunan milik pemerintah lewat PTPN meninggalkan komoditas tembakau dan memilih komoditas lain semisal kopi, tebu dan karet, serta beberapa tanaman kayu keras jangka panjang.<\/span>\r\n\r\nKejayaan tembakau Jember kembali mencapai titik puncaknya ketika produksi rokok kretek nasional kian meningkat seiring permintaan tinggi rokok kretek di pasar nasional. Periode 1970 hingga 1980an menjadi periode transisi massal perubahan pola merokok konsumen rokok Indonesia dari rokok putih ke rokok kretek. Selain permintaan untuk bahan baku rokok kretek, perkebunan tembakau di Jember juga berkembang karena produksi tembakau yang dikhususkan untuk bahan baku cerutu. Untuk tembakau jenis ini, selain memenuhi permintaan dalam negeri, utamanya juga diekspor ke luar negeri karena kualitasnya yang sangat baik.<\/span>\r\n\r\nTren ini terjadi cukup panjang hingga saat ini. Usaha perkebunan tembakau di Jember masih terus bergeliat. Gangguan-gangguan yang diterima petani tembakau di Jember biasanya datang dari kondisi cuaca, serangan hama, dan kebijakan yang seringkali tidak menguntungkan mereka. Dengan kondisi seperti sekarang ini, tentu saja kita semua berharap pertanian tembakau yang menguntungkan petani-petani di Jember tetap bertahan dan tetap menguntungkan mereka. Kampanye-kampanye dan kebijakan-kebijakan yang mengancam keberlangsungan pertanian mereka, sudah semestinya dilawan agar petani tetap terus merasakan kesejahteraan dari manisnya hasil pertanian tembakau.<\/span>","post_title":"Pasang Surut Perkebunan Tembakau di Jember","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pasang-surut-perkebunan-tembakau-di-jember","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-28 16:35:03","post_modified_gmt":"2019-01-28 09:35:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5364","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5351,"post_author":"878","post_date":"2019-01-25 07:00:58","post_date_gmt":"2019-01-25 00:00:58","post_content":"Jumat, 18 Januari 2019, selepas isya, hujan yang mengguyur beberapa wilayah di Kabupaten Jember baru saja reda. Gedung-gedung, pepohonan, trotoar, dan jalan raya masih basah akibat hujan. Genangan air muncul di beberapa sudut ruas jalan yang berhimpitan dengan trotoar. Aroma petrikor menguar di udara Kota Jember.<\/span>\r\n\r\nMengendarai sepeda motor, saya melintasi jalan raya Jember meninggalkan stasiun Jember<\/a> menuju Kecamatan Arjasa. Usai singgah sejenak di Arjasa, saya melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Kalisat, masih di Kabupaten Jember. Malam itu saya dan Lala, istri saya, memang sudah merencanakan untuk bermalam di Kalisat, di kediaman salah seorang rekan yang berprofesi sebagai wartawan dan sejarawan yang mengkhususkan diri untuk meneliti sejarah Kecamatan Kalisat dan Kabupaten Jember.<\/span>\r\n\r\nDi sepanjang jalan menuju Kalisat, di kiri dan kanan jalan kami menemui banyak bangunan besar peninggalan Belanda. Bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Sejak dahulu hingga kini, bangunan-bangunan itu difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan tembakau yang baru dipanen dari perkebunan tembakau yang banyak terdapat di Kabupaten Jember. Selain di Kalisat, di beberapa wilayah lain di Kabupaten Jember kami juga menemukan bangunan yang sama.<\/span>\r\nMeskipun tidak sedang dalam masa tanam dan panen tembakau karena masa tanam dan panen tembakau sudah lewat beberapa bulan yang lalu, aroma tembakau masih tercium hingga ke jalan raya tak jauh dari bangunan-bangunan gudang itu. Aroma tembakau bercampur dengan aroma petrikor yang tercium hidung bagi saya sangat menyegarkan.<\/span><\/blockquote>\r\nJember memang tak bisa dipisahkan dari tembakau. Wilayah ini begitu terkait erat dan berpilin-berkelindan perkembangannya bersama perkebunan tembakau. Kurang tepat memang jika menyebut wilayah Jember terbentuk karena perkebunan tembakau, namun, yang pasti wilayah Jember tumbuh dan berkembang pesat bersama pertumbuhan dan perkembangan perkebunan tembakau. Tanpa mengecilkan perkebunan-perkebunan lain yang juga berkembang di sana, tembakau memang menjadi ujung tombak perkebunan di wilayah Jember, sejak dulu hingga kini.<\/span>\r\n\r\nTak ada yang tahu pasti sejak kapan tembakau ditanam di wilayah Jember, sejarah mencatat, perkebunan tembakau berkembang pesat sejak tahun 1850-an, tepatnya sejak George Birnie, seorang warga negara Belanda keturunan Skotlandia mendirikan perusahaan perkebunan tembakau bernama Lanbhouw Maaschappij Oud Djember pada 21 Oktober 1859. Pesatnya perkembangan usaha perkebunan tembakau di Jember mengundang banyak pendatang baru ke wilayah Jember dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa semisal Lumajang, Blitar, Kediri, dan Ponorogo. <\/span>\r\n\r\nPerkembangan perkebunan tembakau di wilayah Jember menyebabkan lonjakan penduduk Jember sangat spektakuler karena kedatangan pekerja dari luar Jember. Pada tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang dan pada tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang (Pertumbuhan Kota Jember dan Munculnya Budaya Pandhalungan, Makalah Presentasi Konferensi Nasional Sejarah VIII, Drs. Edy Burhan Arifin, S, Dosen Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Jember, Jakarta 2006).<\/span>\r\n\r\nMenurut catatan Pemerintah Kabupaten Jember pada laman resminya, pada 1805 penduduk Jember hanya sekitar 5000 jiwa, berkembang pesat mendekati satu juta jiwa pada akhir abad 19.<\/strong> Pemerintah Kabupaten Jember sampai mendaulat George Birnie sebagai Bapak Jember Modern karena keberhasilannya mengembangkan perkebunan tembakau di Jember hingga mendatangkan banyak penduduk baru ke wilayah tersebut.<\/span>\r\n\r\nDampak lain dari kedatangan pekerja ke wilayah Jember usai pembukaan perkebunan tembakau di sana, selain pesatnya perkembangan perkebunan tembakau hingga menyebabkan Jember menjadi salah satu wilayah andalan pemerintahan kolonial Belanda untuk menghasilkan tembakau yang diekspor ke Bremen, Jerman, adalah munculnya kebudayaan baru di wilayah Jember yang dibentuk berdasar asimilasi para pendatang dari Madura dan wilayah lain di Pulau Jawa. Kebudayaan dan adat istiadat tersebut kerap disebut sebagai Pendhalungan, perpaduan antara Madura dan Jawa hingga menghasilkan budaya dan tradisi baru.<\/span>\r\n\r\nBerawal dari pembukaan perkebunan tembakau, wilayah Jember berkembang pesat hingga saat ini dengan tetap menyematkan identitas tembakau dalam perjalanan perkembangan wilayahnya. Jika ingin melihat wilayah yang tumbuh dan berkembang beriringan dengan budidaya perkebunan tembakau, tak bisa dimungkiri, Jember mesti disebut paling awal, karena Jember dan tembakau, saling terkait dan berkembang beriringan.<\/span>","post_title":"Jember, Wilayah yang Dibesarkan oleh Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jember-wilayah-yang-dibesarkan-oleh-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-25 03:48:57","post_modified_gmt":"2019-01-24 20:48:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5351","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5348,"post_author":"878","post_date":"2019-01-24 08:25:38","post_date_gmt":"2019-01-24 01:25:38","post_content":"Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)<\/a> merupakan hasil pungutan oleh negara di luar pajak yang diambil dari hasil olahan tembakau dalam bentuk cukai. Pengelolaan dan pengaturannya di bawah wewenang negara lewat representasi kementerian keuangan. Cukai merupakan salah satu penerimaan rutin negara yang persentasenya setiap tahun mencapai sekitar 10 persen dari total penerimaan negara. Dari total 10 persen penerimaan cukai itu, lebih dari sembilan persennya didapat dari cukai olahan tembakau yang langsung dipungut dari setiap batang rokok yang dibeli konsumen.<\/span>\r\n\r\nBerdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222\/PMK.07\/2017 tentang penggunaan, pemantauan, dan evaluasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau, pada Bab II, perihal penggunaan DBHCHT, pasal 2 poin 1, 2, dan 3, DBHCHT digunakan untuk mendanai program\/kegiatan:<\/span>\r\n
\r\n \t
Lalu bagaimana dampak DBHCHT kepada petani tembakau dan cengkeh di negeri ini? <\/span><\/h4>\r\nTentu saja besarnya dana yang dihasilkan dari Industri Hasil Tembakau lewat skema cukai dan pajak tak bisa dilepaskan dari peran sentral petani tembakau<\/a> dan cengkeh di negeri ini. Produk rokok kretek yang menjadi primadona di negeri ini, bahan bakunya didapat dari para petani tembakau dan petani cengkeh di penjuru nusantara.<\/span>\r\n\r\nMemang ada amanah penggunaan DBHCHT untuk peningkatan kualitas bahan baku. Akan tetapi skema yang berjalan kini, mentok di penyuluh-penyuluh pertanian dan tidak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Sering kali penyuluh pertanian memberikan masukan-masukan yang kontradiktif dengan fakta di lapangan yang ditemukan petani. Alih-alih meningkatkan kualitas bahan baku, para petani sekadar dibebankan membeli pupuk bersubsidi yang dananya diambil dari DBHCHT. Yang paling parah, tentu saja dialami oleh petani-petani cengkeh yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan. Banyak dari mereka yang sama sekali belum merasakan langsung DBHCHT yang semestinya mereka terima sesuai amanat peraturan pemerintah.<\/span>\r\n\r\nKontradiksi lainnya yang lumrah terjadi di lapangan, DBHCHT malah digunakan untuk melakukan sosialisasi dan membeli bibit baru sebagai ganti tanaman tembakau dan cengkeh yang merupakan bahan baku rokok kretek. Alih-alih meningkatkan kualitas bahan baku, petani dipaksa untuk mengganti tanaman tembakau dan cengkeh mereka dengan tanaman lainnya yang tidak berhubungan dengan industri hasil tembakau dengan alasan kesehatan.<\/span>\r\n\r\nMaka sudah saatnya kini petani sebagai produsen bahan baku industri yang mampu menyumbangkan pemasukan besar bagi negara merasakan langsung DBHCHT tersebut. Bukan lagi skema tipu-tipu yang kontradiktif dan malah merugikan mereka. Salah satu skema yang tepat menurut kami dan tidak bertentangan dengan peraturan menteri keuangan terkait penggunaan DBHCHT adalah, dana tersebut dialokasikan khusus untuk mendaftarkan dan membayar iuran BPJS para petani tembakau dan cengkeh di negeri ini. Lewat skema ini, bukan hanya tepat sasaran dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh petani dan keluarga mereka, namun ini juga sesuai dengan amanat undang-undang dan tidak melenceng dari peraturan yang ada.<\/strong><\/span>","post_title":"Seharusnya DBHCHT untuk Membayar BPJS Petani","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"seharusnya-dbhcht-untuk-membayar-bpjs-petani","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-24 08:26:09","post_modified_gmt":"2019-01-24 01:26:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5348","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":12},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"keberhasilan-gerakan-anti-tembakau-tak-ada-tembakau-saat-musim-hujan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-07 12:16:02","post_modified_gmt":"2019-02-07 05:16:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5415","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5382,"post_author":"878","post_date":"2019-02-01 08:32:58","post_date_gmt":"2019-02-01 01:32:58","post_content":"Gumpalan asap tebal menyelimuti hampir seluruh ruangan berukuran delapan kali enam meter. Empat orang di salah satu sudut ruangan dengan benda aneh di tangan mereka masing-masing menjadi sumbernya. Asap itu mengeluarkan aroma wangi. Sangat wangi. Saya menduga itu aroma buah-buahan. Aliran asap tersebut, karakteristiknya berbeda dengan asap hasil pembakaran sebatang rokok misalnya. Itulah kali pertama saya melihat rokok elektrik atau lazim disebut vape<\/a> beberapa tahun yang lalu.<\/span>\r\n\r\nAsap yang ditimbulkan akibat aktivitas mengisap vape berbeda dengan asap yang ditimbulkan dari asap rokok. Ia bergerak cenderung horizontal dan vertikal ke bawah, sedangkan asap rokok vertikal ke atas usai dihebuskan ke arah mana saja. Setelah saya coba cari tahu, proses reaksi yang terjadi dari keduanya memang beda. Prinsip kerja rokok konvensional adalah proses pembakaran. Sedangkan pada rokok elektrik, terjadi proses penguapan menggunakan panas yang bersumber dari sebuah plat yang energi pemanasnya didapat dari baterai.<\/span>\r\n\r\nAsap hasil pembakaran dengan asap hasil penguapan memiliki masa jenis yang berbeda. Pembakaran biasanya menghasilkan asap dengan masa jenis yang lebih ringan dibanding penguapan. Dari kajian personal yang saya lakukan itu, hingga saat ini saya belum mau mencoba rokok elektrik, karena menurut pendapat pribadi saya, tubuh akan lebih berat bekerja mengolah asap hasil penguapan dibanding asap hasil reaksi pembakaran.<\/span>\r\n\r\nNamun begitu, sejak maraknya penggunaan rokok elektrik di negeri ini, terutama di beberapa kota besar di Indonesia, rokok elektrik tersebut dianggap sebagai alternatif yang lebih menyehatkan di banding rokok konvensional. Rokok elektrik dikampanyekan sebagai sarana antara bagi mereka yang ingin berhenti merokok konvensional karena dianggap mudharatnya lebih kecil dibanding rokok konvensional. <\/span>\r\nApa benar seperti itu?<\/span><\/h3>\r\nBelum terlalu banyak riset mendalam dilakukan guna mengetahui manfaat dari rokok elektrik dan terutama risiko-risiko yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk yang familiar disebut vape itu. Ini berbeda jauh dengan riset terkait rokok konvensional. Sudah cukup banyak. Baik yang bernada positif, lebih-lebih yang bernada negatif dan adakalanya tidak cukup berimbang.<\/span>\r\n\r\nBeberapa riset yang pernah dilakukan tersebut di antaranya adalah riset selama tiga tahun yang dilakukan oleh pihak Universitas Catania di Italia. Pada 2017, mereka merilis hasil riset yang menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menimbulkan risiko\u00a0kesehatan\u00a0serius dibandingkan dengan rokok biasa yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Riset tesebut menyebutkan bahwa konsumsi\u00a0vape\u00a0tidak menyebabkan masalah pada paru-paru, bahkan pada konsumen yang menggunakan rokok elektrik secara reguler, hal ini dilihat dari sisi fisiologis, klinis, ataupun inflamasi. <\/span>\r\n\r\n\"Kami tidak menemukan bukti adanya masalah\u00a0kesehatan, terkait penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang berdasarkan riset kami,\" kata Riccardo Polosa, Direktur Universitas Catania di\u00a0Italia.<\/span>\r\n\r\nLaporan ini merupakan hasil studi selama 3,5 tahun dengan menyasar pengguna\u00a0vape\u00a0pada usia 23-35 tahun, serta menyasar sekelompok orang non-perokok lainnya dengan rentang usia yang sama. (<\/span>http:\/\/www.tribunnews.com\/lifestyle\/2017\/12\/20\/riset-dari-italia-sebut-rokok-elektrik-minimalisir-risiko-kesehatan-secara-signifikan<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya, tim peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) bekerja sama dengan Universitas Padjajaran. Tim ini melakukan riset bersama mengenai apa yang terjadi di rongga mulut ketika seseorang merokok.<\/span>\r\n\r\n\"Kajian di rongga mulut pada sel yang kita ambil dari dalam pipi. Itu kita kerok lalu diteliti di bawah mikroskop, itu memperlihatkan perilaku sel,\" papar Amaliya, salahseorang peneliti YPKP dalam sebuah diskusi di Jakarta.<\/span>\r\n\r\nAmaliya melanjutkan, ketika banyak inti-inti kecil sel yang mengelilingi inti besar, hal tersebut menunjukkan ketidakstabilan sel. Sel itu dapat berupa menjadi keganasan berupa tumor, kanker, dan penyakit lainnya.<\/span>\r\n\r\n\"Tapi untuk pengguna rokok eletrik (rotrik) ketidakstabilan sel ini tidak terlihat,\" jelas dia.<\/span>\r\n\r\n\"Kita bisa melihat paparan zat bahayanya berkurang, sampai tinggal hanya lima persen, sehingga sel menjadi stabil ketika membelah sudah lebih baik dan normal dibanding rokok konvensional,\" jelasnya.<\/span>\r\n\r\nAmaliyah menjelaskan, baik rokok konvensional ataupun elektrik memang tidak sehat. Hanya saja, jika ingin mengurangi bahaya kesehatan dapat beralih ke rotrik (rokok elektrik). Melalui penelitian di Inggris, tambah Amaliyah, rokok konvensional mempunyai zat berbahaya sampai risiko keselamatan 100 perse dibanding vape.<\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.jawapos.com\/kesehatan\/health-issues\/30\/01\/2018\/hasil-riset-dibanding-rokok-konvensional-vape-ternyata-tak-berbahaya<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nAkan tetapi, tidak semua hasil penelitian mengenai rokok elektrik melulu bernada positif. Penelitian yang dilakukan oleh dr. Nauki Kunugita dari National Institute of Public Health di Jepang misalnya, menurut hasil penelitiannya, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat\u00a0karsinogen\u00a0(kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA, mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa. <\/span>\r\n
Menurut Irina Petrache, dokter dan spesialis paru-paru di Indiana University, Indianapolis, dan tim peneliti yang dibentuknya menyimpulkan bahwa vaping tidak lebih baik dari merokok, jika menyangkut kesehatan paru-paru.<\/span><\/blockquote>\r\nPada penelitian yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham, para peneliti membuat sebuah alat meniru seseorang sedang mengisap rokok elektrik dengan melibatkan sampel organ tubuh dari delapan orang non-perokok. Para peneliti kemudian menemukan asap rokok elektrik menyebabkan pembengkakan dan merusak aktivitas\u00a0<\/span>alveolar macrophages<\/span><\/i>\u2014sel-sel yang berpotensi melawan partikel debu, bakteri, dan pemicu alergi. (<\/span>https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/majalah-45178673<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nPada penelitian lainnya masih mengenai rokok elektrik, Sven Jordt, salah satu peneliti dalam laporan yang dirilis Kamis (18\/10\/2018) di jurnal Nicotine and Tobacco Research menyebutkan bahwa perisa kimia dan pelarut, (yang membentuk) cairan itu, dan berada di dalam rokok elektrik, mereka bisa membentuk senyawa kimia baru. Jordt yang merupakan pengajar ilmu anestesi, farmasi, dan\u00a0<\/span>cancer biology<\/span><\/i>di Fakultas Kedokteran Duke University melanjutkan, \u201cSenyawa-senyawa baru ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan pemakai rokok elektrik. Hidung, mulut, dan tenggorokan kita memiliki ujung saraf yang bisa merasakan kandungan kimia yang menyakitkan atau pedih dalam udara yang dihirup. Misalnya rasa panas dan menyengat saat mengisap rokok, dimediasi oleh ujung saraf ini. Ujung-ujung saraf tersebut juga bisa memicu bersin dan batuk, pada dasarnya untuk menjaga paru-paru dari zat kimia beracun yang dihirup.\u201d <\/span>\r\n\r\n(<\/span>https:\/\/www.beritasatu.com\/kesehatan\/517337-penelitian-terbaru-ungkap-risiko-rokok-elektrik.html<\/span><\/a>)<\/span>\r\n\r\nItulah sedikit yang bisa disimak dari hasil riset terkait rokok elektrik. Klaim-klaim lebih sehat dan lebih baik dan lebih berisiko kecil dan lain sebagainya, belum bisa dipastikan dan belum tentu benar. Bahkan malah mungkin sekali jauh lebih berbahaya. Saya kira, merokok elektrik dan merokok konvensional, adalah hak yang sama-sama dilindungi oleh negara. Yang kurang bijak adalah, mengklaim lebih baik dan lebih menyehatkan sembari menjatuhkan lainnya. Padahal itu sama sekali belum benar-benar terbukti. <\/span>","post_title":"Riset Kesehatan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"riset-kesehatan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-01 08:33:58","post_modified_gmt":"2019-02-01 01:33:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5382","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n
Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n
Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n
Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n