Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n
Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n
Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n
Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kian hari, produk rokok dan para perokok kian lekat dengan praktik-praktik diskriminasi yang begitu telanjang dipraktikkan. Gempuran isu rokok dan kesehatan, rokok penyebab kemiskinan, kawasan bebas rokok, cukai yang mencekik, dan ragam bentuk diskriminasi lainnya yang masih terus saja dipraktikkan, bahkan pada titik tertentu semakin keras dipraktikkan. Yang terbaru, tuduhan rokok sebagai penyebab tunggal penyakit kanker paru-paru yang menyebabkan kematian salah seorang pejabat negeri ini, padahal Ia sama sekali tidak mengonsumsi rokok. Namun dalih perokok pasif digaungkan guna menyerang rokok sebagai sumber penyakit, rokok penyakitan.<\/p>\n\n\n\n Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Benci rokok boleh. Sangat boleh. Silakan saja. Tapi ya jangan semua serba dikarang-karang dan asal ngomong saja. Orang mau bantu mengembangkan olahraga nasional kok malah dihalang-halangi dengan alasan yang dikarang-karang. Ajaib KPAI ini. Dan memang begitulah model-model keajaiban para pembenci rokok di muka bumi. Kian hari, produk rokok dan para perokok kian lekat dengan praktik-praktik diskriminasi yang begitu telanjang dipraktikkan. Gempuran isu rokok dan kesehatan, rokok penyebab kemiskinan, kawasan bebas rokok, cukai yang mencekik, dan ragam bentuk diskriminasi lainnya yang masih terus saja dipraktikkan, bahkan pada titik tertentu semakin keras dipraktikkan. Yang terbaru, tuduhan rokok sebagai penyebab tunggal penyakit kanker paru-paru yang menyebabkan kematian salah seorang pejabat negeri ini, padahal Ia sama sekali tidak mengonsumsi rokok. Namun dalih perokok pasif digaungkan guna menyerang rokok sebagai sumber penyakit, rokok penyakitan.<\/p>\n\n\n\n Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lagi pula, eksploitasi anak dari mana? Aneh. Orang dikasih beasiswa full dan difasilitasi agar jadi atlet bulutangkis profesional sesuai minat dan bakat anak kok eksploitasi. Pihak Djarum sendiri sudah bilang, sama sekali tak ada promosi apalagi penjualan rokok kepada anak-anak pada program seleksi beasiswa bulutangkis Djarum. Murni untuk menyeleksi anak sesuai bakat mereka di bidang bulutangkis.<\/p>\n\n\n\n Benci rokok boleh. Sangat boleh. Silakan saja. Tapi ya jangan semua serba dikarang-karang dan asal ngomong saja. Orang mau bantu mengembangkan olahraga nasional kok malah dihalang-halangi dengan alasan yang dikarang-karang. Ajaib KPAI ini. Dan memang begitulah model-model keajaiban para pembenci rokok di muka bumi. Kian hari, produk rokok dan para perokok kian lekat dengan praktik-praktik diskriminasi yang begitu telanjang dipraktikkan. Gempuran isu rokok dan kesehatan, rokok penyebab kemiskinan, kawasan bebas rokok, cukai yang mencekik, dan ragam bentuk diskriminasi lainnya yang masih terus saja dipraktikkan, bahkan pada titik tertentu semakin keras dipraktikkan. Yang terbaru, tuduhan rokok sebagai penyebab tunggal penyakit kanker paru-paru yang menyebabkan kematian salah seorang pejabat negeri ini, padahal Ia sama sekali tidak mengonsumsi rokok. Namun dalih perokok pasif digaungkan guna menyerang rokok sebagai sumber penyakit, rokok penyakitan.<\/p>\n\n\n\n Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n Baca: Protes Petani Tembakau Temanggung ke Kemkominfo<\/a><\/p>\n\n\n\n Menurutnya, keputusan mulai merokok di usia senja Ia pilih sesaat setelah mengetahui seluk-beluk perang nikotin yang terjadi di bumi. Ragam bentuk isu mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga isu lingkungan dijadikan alat oleh pemodal asing untuk merebut pasar rokok di negeri ini yang sepenuhnya dikuasai pengusaha dalam negeri lewat produk khas nusantara yang kerap disebut 'kretek'.<\/p>\n\n\n\n Bagi Kang Sob, merokok itu peristiwa politik. Merokok adalah aksi untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin merusak industri hasil tembakau (IHT) Indonesia. Dengan merokok, kita berpolitik, bukan sekadar berpolitik untuk IHT, namun berpolitik untuk petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok, hingga pedagang asongan. <\/p>\n\n\n\n Merokok itu sebuah bentuk keberpihakan. Berpihak pada nasib petani, berpihak kepada buruh tani dan pekerja pabrik, hingga akhirnya berpihak pada kedaulatan dan kemandirian bangsa lewat produk istimewa bernama kretek. Terang dan jelas dan lugas.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n Ada syarat yang mesti dipenuhi untuk bisa bersikap seperti Kang Sob bersikap ketika menikmati sebatang rokok kretek. Syarat itu adalah berada dekat dengan petani dan para pekerja di sektor IHT, merasakan hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Tanpa itu, sulit menerka bagaimana sensasi yang dirasakan ketika kita merokok dengan tujuan lelaku politik.<\/p>\n\n\n\n Dan itulah syarat yang dilalui Kang Sob hingga bisa merasakan ruh lelaku politik ketika Ia merokok. Bukan sekadar hidup dan berinteraksi lama dengan para petani tembakau, Kang Sob lebih jauh dari itu. Ia menuliskan kisah-kisah petani tembakau di Temanggung dalam disertasi doktoralnya\u2014kemudian diterbitkan penerbit KPG\u2014yang Ia beri judul 'Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung'.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Usai membaca buku karya Kang Sob itu, saya lantas ingin merasakan langsung hidup dalam waktu cukup lama di lingkungan mereka yang menggantungkan hidup dari IHT. Merasakan perasaan yang dirasakan Kang Sob ketika merokok. Kesempatan itu pada akhirnya saya dapat di Munduk, Bali, dan Temanggung, Jawa Tengah, tempat Kang Sob melakukan riset untuk disertasinya.<\/p>\n\n\n\n Di Munduk, saya tinggal di rumah milik petani cengkeh, hidup berminggu-minggu di lingkungan yang mayoritasnya petani dan buruh tani cengkeh. Saya jalan-jalan ke kebun cengkeh. Melihat petani merawat kebun mereka. Saat panen tiba, saya datang ke kebun untuk melihat dari dekat cengkeh dipanen pekerja pemetik cengkeh. Pada momen-momen itu semua, kretek kerap menjadi teman saya dan para petani cengkeh di Munduk. Di sanalah saya merasakan dengan jernih seperti apa itu perasaan keberpihakan, perlawanan, dan lelaku politis lewat menikmati sebatang kretek.<\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, lebih jauh lagi. Saya tak hanya melihat dari dekat bagaimana petani dan buruh tani menanam komoditas yang mendukung IHT. Di kabupaten yang diapit dua gunung itu, saya melihat secara langsung, bahkan menjadi salah satu pelaku yang mengelola manfaat IHT untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak petani dan buruh tani tembakau lewat skema beasiswa. Di rumah-rumah petani di lereng gunung, di alun-alun kota, di kantor beasiswa KNPK, dan di banyak tempat lainnya di Temanggung, saya merasakan aktivitas merokok bukan sekadar untuk mengusir dingin cuaca pegunungan semata. Di sana saya mengekspresikan perlawanan lewat merokok. Melawan kesewenang-wenangan mereka anti-rokok yang hendak menghancurkan kehidupan banyak manusia.<\/p>\n","post_title":"Ekspresi Perlawanan Lewat Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ekspresi-perlawanan-lewat-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-06 12:33:20","post_modified_gmt":"2019-07-06 05:33:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5843","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":8},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lagi pula, eksploitasi anak dari mana? Aneh. Orang dikasih beasiswa full dan difasilitasi agar jadi atlet bulutangkis profesional sesuai minat dan bakat anak kok eksploitasi. Pihak Djarum sendiri sudah bilang, sama sekali tak ada promosi apalagi penjualan rokok kepada anak-anak pada program seleksi beasiswa bulutangkis Djarum. Murni untuk menyeleksi anak sesuai bakat mereka di bidang bulutangkis.<\/p>\n\n\n\n Benci rokok boleh. Sangat boleh. Silakan saja. Tapi ya jangan semua serba dikarang-karang dan asal ngomong saja. Orang mau bantu mengembangkan olahraga nasional kok malah dihalang-halangi dengan alasan yang dikarang-karang. Ajaib KPAI ini. Dan memang begitulah model-model keajaiban para pembenci rokok di muka bumi. Kian hari, produk rokok dan para perokok kian lekat dengan praktik-praktik diskriminasi yang begitu telanjang dipraktikkan. Gempuran isu rokok dan kesehatan, rokok penyebab kemiskinan, kawasan bebas rokok, cukai yang mencekik, dan ragam bentuk diskriminasi lainnya yang masih terus saja dipraktikkan, bahkan pada titik tertentu semakin keras dipraktikkan. Yang terbaru, tuduhan rokok sebagai penyebab tunggal penyakit kanker paru-paru yang menyebabkan kematian salah seorang pejabat negeri ini, padahal Ia sama sekali tidak mengonsumsi rokok. Namun dalih perokok pasif digaungkan guna menyerang rokok sebagai sumber penyakit, rokok penyakitan.<\/p>\n\n\n\n Atas penghargaan itu, Ia berkomitmen menerapkan aturan baru di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Mereka pegawai pemerintahan yang berharap bisa naik pangkat, salah satu syarat agar bisa naik pangkat adalah tidak merokok. Jika merokok, jangan harap bisa naik pangkat.<\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Jika seseorang ditanya mengapa ia merokok, jawaban yang paling sering didengar: untuk relaksasi, teman rehat, rekan berkarya, dan semua hal yang mengalir ke muara bernama kenikmatan. Hampir semua berkutat di sekitar itu. Yang sedikit berbeda, ada juga yang menjawab supaya lebih enak ketika mengobrol dengan teman yang juga merokok, atau untuk mengusir hawa dingin yang mengepung tubuh.<\/p>\n\n\n\n Adalah Muhamad Sobary, seorang budayawan, penulis produktif, dan peneliti jempolan yang memiliki jawaban lain dari yang lain. Muhamad Sobary baru mulai merokok pada usia 59 tahun. Usia yang terlampau telat untuk memulai merokok. Di saat kebanyakan perokok lain memutuskan berhenti merokok di usia senja, laki-laki yang biasa disapa 'Kang Sob' ini malah baru mulai merokok.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Baru-baru ini pemerintah lewat menteri kesehatan memberikan penghargaan bernama Pastika Parama kepada beberapa wilayah di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan menteri kesehatan kepada provinsi dan kabupaten\/kotamadya yang berhasil mendorong pemerintahan di wilayahnya membuat aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Satu dari sekian wilayah yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.<\/p>\n\n\n\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
Baru-baru ini pemerintah lewat menteri kesehatan memberikan penghargaan bernama Pastika Parama kepada beberapa wilayah di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan menteri kesehatan kepada provinsi dan kabupaten\/kotamadya yang berhasil mendorong pemerintahan di wilayahnya membuat aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Satu dari sekian wilayah yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.<\/p>\n\n\n\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Berlomba-Lomba Membenci Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berlomba-lomba-membenci-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-01 12:03:10","post_modified_gmt":"2019-08-01 05:03:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5896","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5874,"post_author":"878","post_date":"2019-07-18 06:29:44","post_date_gmt":"2019-07-17 23:29:44","post_content":"\n
Baru-baru ini pemerintah lewat menteri kesehatan memberikan penghargaan bernama Pastika Parama kepada beberapa wilayah di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan menteri kesehatan kepada provinsi dan kabupaten\/kotamadya yang berhasil mendorong pemerintahan di wilayahnya membuat aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Satu dari sekian wilayah yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.<\/p>\n\n\n\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Berlomba-Lomba Membenci Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berlomba-lomba-membenci-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-01 12:03:10","post_modified_gmt":"2019-08-01 05:03:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5896","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5874,"post_author":"878","post_date":"2019-07-18 06:29:44","post_date_gmt":"2019-07-17 23:29:44","post_content":"\n
Baru-baru ini pemerintah lewat menteri kesehatan memberikan penghargaan bernama Pastika Parama kepada beberapa wilayah di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan menteri kesehatan kepada provinsi dan kabupaten\/kotamadya yang berhasil mendorong pemerintahan di wilayahnya membuat aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Satu dari sekian wilayah yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.<\/p>\n\n\n\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\nOrang hendak membantu memajukan olahraga bangsa, terutama bulutangkis, malah dihalang-halangi. Minta disudahi. Memang KPAI mampu memajukan olahraga bulutangkis begitu kok berani-beraninya minta disudahi?<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Berlomba-Lomba Membenci Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berlomba-lomba-membenci-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-01 12:03:10","post_modified_gmt":"2019-08-01 05:03:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5896","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5874,"post_author":"878","post_date":"2019-07-18 06:29:44","post_date_gmt":"2019-07-17 23:29:44","post_content":"\n
Baru-baru ini pemerintah lewat menteri kesehatan memberikan penghargaan bernama Pastika Parama kepada beberapa wilayah di Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan menteri kesehatan kepada provinsi dan kabupaten\/kotamadya yang berhasil mendorong pemerintahan di wilayahnya membuat aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Satu dari sekian wilayah yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.<\/p>\n\n\n\n
Pada mulanya tak ada yang salah dengan penghargaan itu. Kawasan tanpa rokok (KTR) di beberapa tempat memang mesti diadakan, ini untuk mengatur perokok dan bukan perokok agar mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Sayangnya, kerap kali peraturan KTR yang dibikin mendiskriminasi para perokok. KTR ditafsirkan secara sepihak dengan melarang sama sekali merokok di daerah tertentu tanpa mau menyediakan ruang merokok. Adakalanya, ketersediaan ruang merokok di kawasan KTR sangat memprihatinkan, jauh lebih baik kandang kambing dibanding ruang merokok di beberapa tempat semisal staisun, bandara, dan terminal.
Adalah Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menafsirkan kawasan tanpa rokok dan kemudian penghargaan Pastika Parama yang diterima kabupatennya dengan tafsiran yang lebih liar. <\/p>\n\n\n\n
\u201cApa kata dunia, kan lucu dan ironi, kita sudah dimuliakan diberi penghargaan, tapi elite-elitenya pamer untuk merokok di tempat-tempat umum,\u201d ujar Hamim seperti dirilis Antara, kemudian Ia menambahkan, \u201cApa salah satu penyebab jantung? Merokok.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Bukan prestasi, bukan pula bebas korupsi, bukan kinerja mumpuni, bukan juga karya yang rapi yang dijadikan acuan utama kenaikan pangkat, tetapi tidak merokok. Saya kira ini lebih lucu dan lebih ironi, Pak Bupati. Jika rokok salah satu penyebab jantung seperti yang dikatakan Pak Bupati, sudah barang tentu ada penyebab lainnya. Lantas jika itu dijadikan alasan utama untuk menentukan syarat kenaikan pangkat, mengapa penyebab lain penyakit jantung tidak disertakan dalam syarat kenaikan pangkat? Tidak makan junkfood misal, atau tidak mengendarai kendaraan yang menimbulkan polusi udara. Mengapa hanya rokok?<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Bone Bolango, masuk dalam wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data dari kementerian keuangan, tahun ini Provinsi Gorontalo mendapat jatah dana segar sebesar Rp7,362 miliar dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kabupaten Bone Bolango sendiri kebagian jatah Rp441 juta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan data yang dikeluarkan situsweb resmi Provinsi Gorontalo, salah satu komoditas perkebunan yang ditanam di Kabupaten Bone Bolango adalah cengkeh. Keberadaan komoditas cengkeh inilah yang menjadikan Bone Bolango mendapat jatah dana DBHCHT cukup besar. Produksi cengkeh nasional, lebih dari 90 persennya diserap industri rokok kretek nasional. Dengan kata lain, ada uang dari rokok selain DBHCHT yang masuk ke pemerintah daerah Bone Bolango. Namun, mengapa bupati berencana membikin aturan yang lucu, ironi, dan menjengkelkan sekaligus itu.<\/p>\n\n\n\n
Tidak ada kaitan sama sekali antara aktivitas merokok dengan kinerja seorang pegawai pemerintahan. Jika hanya ingin mencari sensasi usai menerima penghargaan dari menteri kesehatan, lumrah saja memang berencana membikin peraturan tidak merokok sebagai syarat kenaikan pangkat. Namun tentu saja itu sensasi yang menggelikan.<\/p>\n\n\n\n
Soekarno, Agus Salim, Syahrir, dan para pendiri bangsa ini yang merokok dalam kesehariannya, sudah barang tentu akan menertawakan aturan memalukan yang rencananya akan diterapkan Bupati Bone Bolango itu. Mereka bukan sekadar menjalankan pemerintahan negara ini sembari tetap bisa merokok secara santun, lebih dari itu, mereka bahkan adakalanya menggunakan rokok dalam proses-proses diplomasi yang dilakukan demi kedaulatan NKRI. Sekarang, rokok dan para perokok malah hendak kian didiskriminasi dengan memasukkan syarat tidak merokok agar bisa naik pangkat. Aneh.<\/p>\n\n\n\n
Kinerja mumpuni, bebas korupsi, karya yang baik, pelayanan yang prima, itu yang semestinya dijadikan syarat utama kenaikan pangkat. Tak ada hubungannya pangat itu dengan aktivitas merokok. Sama sekali tidak ada irisannya. Mengambil pajak dari petani cengkeh semangat sekali. Lantas menuntut jatah dari dana DBHCHT kemudian berbinar-binar ketika menerima jatah dana yang tidak sedikit itu. Akan tetapi, itu dilakukan sembari terus berusaha mendiskriminasi rokok dan para penikmatnya. Meminjam istilah Bupati Bone Bolango, itu yang lucu dan ironi, Pak!<\/p>\n","post_title":"Tidak Merokok sebagai Syarat Kenaikan Pangkat, Lucu dan Ironi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tidak-merokok-sebagai-syarat-kenaikan-pangkat-lucu-dan-ironi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-18 06:29:51","post_modified_gmt":"2019-07-17 23:29:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5874","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5843,"post_author":"878","post_date":"2019-07-06 12:33:13","post_date_gmt":"2019-07-06 05:33:13","post_content":"\n