\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5495,"post_author":"855","post_date":"2019-02-28 08:59:11","post_date_gmt":"2019-02-28 01:59:11","post_content":"\n

Sebagai daerah\npenghasil tembakau termasyhur di Indonesia, Temanggung memiki kualitas tembakau\nlokal yang sangat baik. Keragaman jenis tembakau yang ditanam di tanah ini juga\nmenghasilkan harga rendah untuk tembakau kelas bawah sampai paling mahal untuk tembakau\nyang berkualitas baik.<\/p>\n\n\n\n

Dataran tinggi\nSelopampang, yang terletak 1000 mdpl di kaki Gunung Sumbing, tembakau terbagi\nmenjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan\ntembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit\nseperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di\ngaris aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan\ntembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan\nkualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Sukses Bertani Tembakau Bersama Kemitraan Djarum di Temanggung<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak berhenti\nsampai situ, dari Kemloko 1, 2 dan 3, terdapat perbedaan kelas. Seperti kelas A\nbiasanya tembakau berwarna hijau, kelas B dihuni oleh tembakau yang berwarna\nhijau kuning, kelas C memiliki tembakau kuning keemasan. Semakin tinggi\nkelasnya maka kualitas dan aroma tembakau akan memakai bagus, layaknya kelas D\nyang memiki warna dominan merah didampingi dengan kuning, tembakau kelas E akan\ndominan pada warna hitam dan didampingi warna merah dan kelas F dengan warna\nhitam.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kelas\nterbaik diduduki oleh kelas G, H dan I yang memiliki warna hitam mengkilap.\nPerbedaan di ketiga kelas ini terdapat pada aroma. Semakin ke atas, maka aroma\ndari tembakau akan semakin keras. Meski demikian, kelas A dapat berubah menjadi\nkelas D jika ditanam dan dirawat dengan cara yang benar, yaitu tanpa\nmenggunakan bahan kimia alias hanya menggunakan pupuk organik.<\/p>\n\n\n\n

Soal perawatan,\nkebanyakan masyarakat Temanggung memiliki cara yang unik. Tembakau yang\ndianggap gagal, kemudian dipetik dan dijadikan sebagai cairan pestisida untuk\nmengobati beragam penyakit yang mendera tembakau. Hal ini cukup manjur,\ntembakau yang semula kualitas D dapat berubah menjadi kualitas E ketika\ndimasukkan ke perusahaan besar di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Perniagaan tembakau yang tidak\nmenguntungkan bagi sebagian petani<\/strong><\/h4>\n\n\n\n

Minggu lalu\nsaya berkungjung ke daerah Ngadirejo Temanggung untuk mengurus beberapa hal. Di\nsana saya banyak bertemu dengan petani tembakau yang dengan suka rela\nmengeluarkan keluh kesahnya menjadi petani tembakau. Salah satunya dalam\nperniagaan.<\/p>\n\n\n\n

Banyak petani\nyang tidak bermitra dengan perusahaan rokok, sehingga mereka kesusahan untuk\nmemasarkan tembakau mereka. Bahkan seperti yang dialami salah satu petani,\nketika ia setor tembakau ke gudang, hanya dibayar dengan selembar kertas\nkwitansi bertuliskan harga tembakaunya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBiasanya\nuangnya akan cair 3-6 bulan kemudian,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n

Memang masih\nbanyak persoalan yang ada dalam sektor pertembakau. Baik dari sisi perniagaan,\npenanaman hingga ketidakjujuran petani dalam menjual tembakaunya. Pemerintah\ntidak pernah hadir dalam ragam permasalahan yang terjadi, mereka hadir saat\npenentuan cukai dan berapa banyak yang dapat dikeruk dari sektor pertembakauan\nini. <\/p>\n\n\n\n

Tetapi apapun\nitu, sektor pertembakauan ini terus memberikan sumbangsih besar terhadap\npemasukan negara. Sehingga berbagai sektor dalam menjalankan bangsa dan negara\ncukup terbantu.<\/p>\n","post_title":"Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengenal-jenis-tembakau-terbaik-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-28 08:59:19","post_modified_gmt":"2019-02-28 01:59:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5495","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5181,"post_author":"855","post_date":"2018-12-08 08:32:33","post_date_gmt":"2018-12-08 01:32:33","post_content":"November 2018, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia<\/a>, Tulus Abadi, bersama jaringan masyarakat pengendali tembakau mengecam akan menggugat PT KAI jika perusahaan plat merah itu tidak menurunkan iklan rokok di stasiun-stasiun.\r\n\r\nSebagaimana yang banyak dikutip media, Tulus Abadi, seseorang yang tidak pernah sekalipun membela konsumen rokok itu, menganggap manajemen PT KAI setengah hati dalam menanggapi aduan masyarakat (maksudnya YLKI dan lembaga swadaya lainnya). Iklan rokok hanya ditutup kain, disarungi, tidak diberantas sebagaimana keinginan Tulus Abadi.\r\n\r\nTrack record Tulus Abadi dalam menggugat pemerintah jangan diragukan lagi. Silahkan searching saja keyword \"Tulus Abadi menggugat rokok\" di mbah google, maka berentet berita soal itu akan muncul. Tapi yasudah, kita maklumi saja pekerjaan Tulus Abadi selain membela konsumen adalah spesialis penggugat rokok.\r\n\r\nKembali lagi pada persoalan ancaman gugatan YLKI terhadap PT KAI. Ancaman itu disambut gembira oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan. Kawan karib Tulus Abadi ini memberikan sumbangsih pasal-pasal untuk menundukkan PT KAI. Menurut Tigor, pihaknya bisa menggugat PT KAI secara perdata dan tuduhan melawan hukum, sebagaimana diatur pada Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUH Perdata.\r\n\r\nDalam Pasal 1365 KUH Perdata bahwa segala perbuatan yang melawan hukum yang merugikan orang lain mewajibjan pelaku untuk melakukan ganti rugi. Pasal ini artinya, muaranya pada ganti rugi.\r\n\r\nLogika yang dibangun tigor sejatinya membuat publik bertanya-tanya, apakah memang banyak orang dirugikan jika ada iklan rokok di stasiun? Jangan-jangan cuma kelompoknya sendiri. Atau apakah dengan melihat iklan rokok, seseorang kemudian akan merokok? Nah soal ini tidak bisa disimpulkan secara sederhana.\r\n\r\nDari dulu, jika mau mencermati apapun pasal yang digunakan Tigor untuk menggugat IHT bermuara pada ganti rugi, alias uang. Masih ingat kasus Rohayani, seorang lelaki yang wajahnya mirip dengan model di bungkus rokok? Nah Azas Tigor dari peristiwa itu mengojok-ojoki Rohayani untuk meminta ganti rugi yang sangat banyak.\r\n\r\nSebagai perokok yang baik, kita seharusnya bisa memahami bahwa memang rokok menghidupi jutaan masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang membenci kemudian memanfaatkannya menjadi arena perang. Kalau tak ada rokok, kira-kira apa yang akan digugat? Klepon, onde-onde atau sekuteng?\r\n\r\nSepintas, apa yang dilakukan Tulus Abadi dan kelompoknya itu sangat mulia. Tapi, kalo mau jeli gugatan Tulus Abadi soal iklan rokok ini keterlaluan dan cenderung lebay.\r\n\r\nTulus seakan membangun wacana, bahwa rokok memang tidak boleh diiklankan. Sejatinya, apa yang dibawa Tulus ini yang sebenarnya tindakan melawan hukum. Sekalipun rokok sering dicaci, rokok adalah barang legal yang dilindungi undang-undang yang punya kedudukan setara dengan barang legal lainnya.\r\n\r\nMari sejenak kita tengok ke belakang. Mahkamah Konstitusi telah menolak permohonan enam perseorangan warga negara dalam pengujian aturan larangan iklan niaga yang memperagakan wujud rokok dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Putusan tersebut dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva pada sidang Kamis 9 Oktober 2014.\r\n\r\nMajelis hakim MK menyatakan, rokok dan tembakau bukan produk ilegal. Karena itu sah bila produk ini dipromosikan dengan menampilkan wujudnya. Selain itu, berlebihan bila menyandingkan rokok sama dengan narkotika.\r\n\r\nDalam perkara bernomor 71\/PUU-XI\/2014 ini, para pemohon tersebut menguji ketentuan dalam Pasal 46 ayat (3) huruf c sepanjang mengenai frasa \"yang memperagakan wujud rokok\" yang berada dalam norma larangan siaran iklan niaga melakukan \"promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.\"\r\n\r\nTahun 2017, Mahkamah Konstitusi (MK) juga menolak\u00a0judicial review\u00a0atau uji materi oleh Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyah, beserta Yayasan Lembaga Pemberdayaan Sosial Indonesia terhadap Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers agar iklan rokok dilarang.\r\n\r\nMahkamah berpendapat sesungguhnya kepentingan para pemohon terkait iklan rokok sudah diakomodir Pasal 46 ayat (3) huruf c Undang-undang Penyiaran dan Pasal 13 huruf c Undang-undang Pers sebagaimana yang digugat.\r\n\r\nDengan catatan, pelarangan iklan yang dimaksudkan pemohon adalah larangan terhadap promosi rokok yang memperagakan wujud rokok dan larangan memuat iklan peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.\r\n\r\nDemikian pula dengan ketentuan Pasal 13 UU Pers juga berisi tentang larangan bagi perusahaan iklan untuk mengiklankan substansi yang dikehendaki para pemohon yang salah satunya adalah larangan mempromosikan rokok yang memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nIklan rokok tidak dilarang, namun hanya dibatasi. Kita bisa melihat dengan gamblang, jika perusahaan yang tidak pernah menampilkan produknya dalam iklan adalah perusahaan rokok. Coba deh perhatikan, masa yang dijual rokok yang diiklankan malah soal musik, petualangan dan seabrek pemandangan yang indah-indah. Betapa pemerintah ini menghimpit industri yang sebenarnya telah berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.\r\n\r\nBagi Tulus, stasiun tidak ramah anak karena masih banyak iklan rokok yang terpasang. Ini adalah lagu lama kaset kusut yang terus digunkan antirokok sebagai salah satu strategi membangun opini pubilk: \"Iklan rokok berpengaruh pada anak. Perushan rokok menyasar anak-anak. Maka, iklan rokok harus ditiadakan.\"\r\n\r\nHwian Cristianto, seorang peneliti dari Univeristas Surabaya pernah membahas hal itu secara spesifik.\r\n\r\nData-data survei soal meningkatnya perokok anak dari iklan-iklan perusahaan rokok yang dihimpun tidak menunjukkan sebab akibat dari adanya pengaturan iklan rokok tanpa memeragakan wujud rokok dengan hak konstitusional anak. Bukti prevalensi yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang merokok hanya berkorelasi dengan fakta bahwa hak anak hidup dan mempertahankan kehidupannya terancam dari keberadaan produk rokok, bukan karena iklan rokok sendiri. Tidak dapat disimpulkan secara serta merta bahwa peningkatan prevalensi perokok usia anak-anak memiliki hubungan kausalitas dengan iklan rokok tanpa memperagakan wujud rokok.\r\n\r\nJadi, sebaiknya yang memang tidak ada jangan kemudian diada-adakan. Adek saya hampir setiap hari melihat iklan kondom di televisi, tetapi ia tau ada waktunya seseorang mengenakan itu. \"Nanti kalau sudah nikah,\" katanya.","post_title":"Antirokok Jangan Asal-asalan Melarang Iklan Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"antirokok-jangan-asal-asalan-melarang-iklan-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:53:17","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:53:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5181","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5087,"post_author":"855","post_date":"2018-10-22 12:44:10","post_date_gmt":"2018-10-22 05:44:10","post_content":"Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok menjadi wasilah (jembatan) mentransfer keilmuan, berdakwah hingga melaksanakan kewajiaban bersosial dengan baik dan bermartabat.<\/em>\r\n\r\n\u00a0<\/em>Tahun 2008, ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Al Hikmah, saya sering sekali menyaksikan Almaghfurlah Kiai Nadjib Suyuthi menghisap kretek dalam kesehariannya. Misalnya, ketika berkeliling pondok, menemani tamu hingga ketika mengajar kitab kuning.\r\n\r\nSebagai seorang santri dengan otak pas-pasan dan daya nalar yang masih minim waktu itu, saya mengetahui satu hal bahwa kiai NU selalu punya maksud di balik segala yang mereka contohkan kepada santrinya. Masa itu menyaksikan beliau menghisap dalam-dalam kreteknya, saya belum mengerti apa hubungannya sebatang kretek dengan pembelajaran di pesantren. Tetapi setelah saya banyak menimba ilmu di sana sini, akhirnya saya menemukan satu jawaban yang cukup masuk akal terhadap pertanyaan yang bergelanyutan di kepala saya.\r\n\r\nMisalnya saat saya mulai akrab dengan buku-buku tentang Gus Miek, katakanlah dalam buku Suluk Jalan Trabas, <\/em>yang menjelaskan bahwa prosesi mendekatkan diri kepada Tuhan dapat ditempuh melalui jalan yang ringkas, entah itu melaui ritus-ritus tertentu atau yang lainnya.\r\n\r\nKemungkinan besar, kegiatan Almaghfurlah Kiai Nadjib adalah sebuah cara beliau untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Menjadikan kretek sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Setiap hisap dan hempasan asapnya terkadung kalimat thayibah yang ia gemakan dari dalam hati. Sebagaimana yang pernah didhawuhkan Cak Nun di Malang, bahwa dari alur pernafasan pun kita masih tetap bisa berdzikir kepada Tuhan.\r\n\r\nSaya percaya bahwa mendapatkan berkah adalah persoalan final keutuaman seorang santri dalam mencari ilmu. Melalui sebatang kretek yang beliau hisap, Almaghfurlah Kiai Nadjib ingin mentransfer keilmuannya kepada para santri. Dari tegesan (puntung) yang beliau tinggalkan di sebuah asbak, dari teh atau kopi yang beliau sisaskan separo di dampar (meja) mengajarnya, melalui sandal yang ia gunakan kemudian ditata oleh seorang santri.\r\n\r\nSaya pribadi adalah salah dari sekian santri Al-Hikmah yang selalu ikut berebut menata sandal, meminum minuman sisa kiai dan mengantongi tegesan <\/em>kiai, karena saya meyakini belajar saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi mengerti. Memang belajar membuat manusia cerdas, tapi hitunglah berapa orang cerdas di bangsa ini yang tidak memiliki kemampuan untuk \u201cmengerti\u201d.\r\n\r\nTak berhenti sampai di situ, kebiasaan Almaghfurlah Kiai Nadjib menghisap kretek mungkin sama halnya dengan alasan Habib Luthfi Pekalongan. Bagi Habib Luthfi, merokok adalah aktivitas menjaga diri agar tetap menjadi bagian makhluk Allah yang gampang berkomunikasi dengan warga dan masyarakat pada umumnya. Kretek adalah sarana bersosial yang baik, meruntuhkan pagar-pagar antara seorang kiai dan masyarakat. Supaya seorang kiai mampu lebih mendekatkan diri dan ngemong<\/em> masyarakat.\r\n\r\nDi sela-sela kesibukan mengaji dan mengkaji, santri-santri di Blora, Rembang, atau di daerah Jawa lainnya, selalu memanfaatkan waktu sela mereka untuk ngopi dan menghisap kretek. Dari situlah mereka mengekspresikan diri dengan ngelelet <\/em>(mbatik rokok) dan mendekatkan satu dengan lainnya.\r\n\r\nHari ini diperingati sebagai Hari Nasional. Sebuah hari yang menyeret kita untuk mengingat masa lampau, masa-masa para santri dan kiai berjuang memerdekakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman imperialis. Saat ini, selain tekun belajar dan ikhlas mengabdi kepada kiai serta negeri, santri adalah kretekus yang paling soleh dan konsisten menjaga kedaulatan negara ini melalui sebatang kretek. Dari sebatang kretek yang mereka hisap, terjagalah roda perokonomian masyarakat kecil, seperti petani, buruh pabrik, pedagang eceran hingga pembangunan infrastruktur nasional.\r\n\r\nTerima kasih para santri, jangan lupa ngopi dan bakar kretek untuk merayakan hari bersejarah ini.","post_title":"Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"romansa-sebatang-kretek-di-hari-santri-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:56:49","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:56:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5087","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5061,"post_author":"855","post_date":"2018-10-04 08:44:43","post_date_gmt":"2018-10-04 01:44:43","post_content":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\n\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\n\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\n\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\n\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\n\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\n\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\n\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\n\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\n\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\n\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\n\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\n\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\n\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\n\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\n\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_title":"Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-sin-dibuat-dalam-keadaan-suci-dari-hadast","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-08-31 02:52:00","post_modified_gmt":"2022-08-30 19:52:00","post_content_filtered":"Rokok sin dibuat tidak hanya dengan racikan tembakau, cengkeh dan bahan-bahan yang menyehatkan. Tetapi juga dengan segala tirakat yang kuat.<\/em>\r\n\r\nSelepas mengikuti diskusi gayeng soal ghaib bulan Muharram di Sekretariat IKAMARU cabang Jakarta (organisasi ikatan alumni pondok Raudlatul Ulum, Guyangan, Pati), saya berkesempatan merokok bareng dengan para \"sufi\" Nusantara 137 (komunitas yang mengkaji keilmuan agama dari perspektif sufi kalau tak salah).\r\n\r\nDi dalam forum kecil tersebut, beberapa kawan dari Nusantara 137 membincang soal agama yang dijadikan alat politik. Gaya tutur ngawur dan pemikiran nyentrik adalah cara mereka dalam menanggapi beragam soal keagamaan yang terjadi saat ini.\r\n\r\n\"Politisi sekarang itu memang asu semua. Agama dijadikan alat untuk berkuasa. Dijadikan landasan untuk tidak berperikemanusiaan. Padahal agama kan wadah untuk mengengkang. Mengengkang dari segala hal yang menciderai orang lain, tak peduli apapun agama maupun pilihan politknya,\" kata Mas Syuaib sembari klepas-klepus menghisap rokok Sinnya.\r\n\r\nSaya dengan seksama mendengarkan mereka saling bersahutan. Bukannya tak punya materi untuk ikut tarik suara, namun saya sudah terlanjur kehabisan nafsu untuk membahasnya.\r\n\r\nDi tengah keseruan itu, Mas Syuaib tiba-tiba membelokkan arah obrolan ke persoalan seputar isu kretek. Ia menanyakan berbagai hal soal kretek, termasuk kampanye-kampanye dan perlawanan yang dilakukan KNPK maupun Komunitas Kretek. Mulai dari kampanye perokok santun sampai konspirasi dibalik perang kepentingan antara yang pro dan kontra terhadap kretek.\r\n\r\nSaya melayaninya dengan senang hati, sembari mencoba mengeruk buah pikir dari titisan para sufi soal isu ini. Setelah panjang lebar membahas problematika dan akal bulus kaum antirokok, gantian Mas Syuaib yang mentransfer informasi soal rokok Sin, rokok yang konon adalah obat untuk segala penyakit.\r\n\r\nMas Syuaib adalah satu dari sekian banyak orang di Nusantara 137 yang gemar menghisap rokok Sin. Baginya, rokok Sin adalah anugerah Tuhan yang perlu disyukuri. \"Saya menyukurinya dengan menghisap setiap hari,\" candanya.\r\n\r\nIa menjelaskan, awal mula diproduksinya rokok Sin dimulai ketika peraciknya, KH Abdul Malik, salah seorang pemimpin Jamaah Tarekat Nagsabandiah Ahlussunniyyah<\/a>, di tahun 2000 mendapatkan Istikharah untuk membuat rokok.\r\n\r\nSejak itulah Kiai Abdul Malik bersama santrinya mencoba berbagai racikan rokok dengan berbahan dasar tembakau dan herbal pilihan. Selama itu pula, rokok tersebut dikonsumsi dan terus dikembangkan hingga mendapat racikan yang tepat. Mei 2005, racikan yang pas pun ditemukan dan dijual terbatas dikalangan jamaah Murid Kiai Abdul Malik sendiri. Lebih dari 750 ribu orang dari tersebar di seluruh nusantara.\r\n\r\nNama\u00a0Sin\u00a0sendiri, lanjut Mas Syuai , diambil dari\u00a0nama gunung Tursina di Timur Tengah. Dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa Nabi Musa pernah menyaksikan penampakan Allah di gunung kecil yang katanya tidak mendapat sinar matahari secara sempurna ini. Meski hancur, namun gunung\u00a0Sin\u00a0telah merasakan puncak kenikmatan tertinggi berkat pejanan cahaya penampakan Tuhan. Demikian juga, pemberian nama Sin pada rokok ini juga dimaksudkan sebagaitafa\u2018ulan. Agar setiap penikmat rokok Sin dapat merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan oleh gunung Sin.\r\n\r\nKomposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan, mampu\u00a0menetralkankandungan TAR dan NIKOTIN dalam rokok. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang\u00a0berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.\r\n\r\nRokok memang tidak menyebabkan penyakit, begitu yang saya yakini. Mbah saya sendiri, kini umurnya sudah 73 tahun. Ia setiap hari menghisap rokok yang dilintingnya sendiri. Beliau tidak mudah sakit. Malahan, di umurnya yang kian senja ia tetap pergi kesawah dan selalu bangun di sepertiga malam untuk menghadap Sang Kuasa.\r\n\r\nDari Mas Syuaib saya baru tau, kalau pekerja rokok Sin diwajibkan berwudu sebelum memulai bekerja. Artinya, rokok Sin dibuat dalam keadaan suci dari hadas. \"Ini saya tau dari salah satu orang dalam (pegawai rokok Sin),\" ungkap Mas Syuaib.\r\n\r\n\"Rokok Sin ini memang unik. Dibuat ketika suci, mungkin maksudnya, agar kesucian daun tembakau, cengkeh serta rempah di dalamnya tak terkotori oleh sifat-sifat buruk yang melekat pada manusia. Kan kita tau, wudu itu maksudnya tidak hanya membasuh muka sampai kaki, tapi lebih dalam daripada itu. Saya merokok Sin, bukan cuma sebab karena rokok ini dibuat oleh ulama, tetapi ada kebahagiaan dapat ikut serta membantu roda perekonomian Indonesia,\" pungkas Mas Syuaib.\r\n\r\nBegitulah saya akhirnya menyadari, dari sebatang kretek ternyata tidak hanya mengadung ekonomi bagi masyarakat kecil, tetapi juga ada tradisi dan kebudayaan yang melekat kental di dalamnya.","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5061","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5014,"post_author":"855","post_date":"2018-09-01 06:00:13","post_date_gmt":"2018-08-31 23:00:13","post_content":"PBNU secara konsisten tidak mengharamkan rokok. Hal itu disebabkan PBNU mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupi penetapan hukum terhadap segala sesuatu. Dalam hal rokok, tentu saja selain mengkaji berbagai referensi dan nash-nash penetapan dalil, PBNU juga mempertimbangkan konteks yang ada. Jika rokok diharamkan, bagaimana nasib jutaan petani temabkau, buruh pabrik rokok, pedagang kecil dan pendapatan negara? tali jagad<\/span>\r\n\r\nSebagai warga nahdliyin yang agak fanatik dan doyan ngeretek, saya kadang penasaran apakah PBNU pernah memiliki produk rokok sendiri atau tidak? Mengingat PBNU sedang berupaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi kaum nahdliyin. Dan rokok menurut saya menjadi lini bisnis yang dapat mengangkat pendapatan secara drastis masyarakat NU.\r\n\r\nBayangkan, dari tanam tembakau, pengolahan, penjualan hingga konsumennya semuanya dilakukan oleh kaum nahdliyin. Maka secara tidak langsung akan terbentuk jaring-jaring bisnis yang cukup keren.\r\n\r\nSetelah berselancar agak lama di dunia maya, akhirnya saya menemukan informasi yang baru saya ketahui beberapa jam lalu. Bahwa PBNU ternya pernah memiliki produk kretek bermerek Tali Jagad. Maklum, di buku-buku tentang NU yang pernah saya baca, saya tidak pernah menemukan tulisan yang membahas mengenai produk perekonomian warga NU.\r\n\r\nTali Jagad diluncurkan pertama kali pada 15 Desember 2002 yang diproduksi oleh PT Bintang Bola Dunia (BBD) yang didirikan oleh PBNU, semasa kepimpinan KH. Hasyim Muzadi. Produk perdananya adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan harga jual Rp.3.800 per-bungkus. Sebagaimana dhawuh KH. Hasyim Muzadi yang dikutip dari pemberitaan Tempo (15\/12\/2003), pendirian pabrik rokok ini dimaksudkan untuk memberdayakan umat.\r\n\r\nSayangnya, pada tahun 2007 Tali Jagad terpaksa dijual \u00a0kepada perusahaan rokok Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel, lantaran PT Bintang Bola dunia membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya, tetapi PBNU tidak memiliki modal yang memadai.\r\n\r\nTali Jagad cukup ngehits pada masanya, khususnya di kalangan warga NU sendiri. Di Jogjakarta misalnya. Hal ini wajar, selain harga ekonomis, Tali Jagad ternyata memiliki cita rasa yang tidak kalah enak dengan rokok lainnya.\r\n\r\nDi tengah rasa penasaran saya terhadap rokok bikinan warga NU ini, saya lantas bertanya kepada salah satu guru yang pernah menjabat pengurus PBNU semasa kepimpinan Kiai Hasyim Muzadi, tentu saja kertekus senior dari kalangan nahdliyin. Satu hal yang saya tanyakan kepada beliau adalah, bagaimana cita rasa rokok yang fenomenal ini.\r\n\r\nBeliau menuturkan, bahwa rokok Tali Jagad memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Halus ditenggorokan. Dan setiap hisapannya dapat mengingatkan ajaran-ajaran mulia NU. Nahasnya, pergantian pita dan kenaikan pajak yang cukup tinggi, pada tahun 2008 rokok Tali Jagad berganti nama menjadi Bintang Buana, senada dengan perubahan rasanya pula.\r\n\r\nMendengar penuturan guru saya tersebut, ada sedikit kekecewaan yang bergelayut di hati saya. Pupus sudah keinginan saya untuk menghisap kretek buah tangan kaum nahdliyin. Tetapi lebih dari itu, kebanggaan saya terhadap PBNU yang begitu peduli terhadap sektor pertembakauan yang telah banyak menyumbang negara selalu menggebu-gebu hingga kini. Dan tak pernah lelah saya banggakan di depan teman dan kawan-kawan dalam forum-forum diskusi warung kopi.","post_title":"Tali Jagad, Rokok NU yang Tak Pernah Kuisap","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tali-jagad-rokok-nu-yang-tak-pernah-kuisap","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-12 16:59:55","post_modified_gmt":"2020-11-12 09:59:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};