Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n
Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n
Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n
Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n
Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n
Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n
Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek.
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau.
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Seorang mahasiswa universitas swasta terkemuka di Kudus Kota Kretek, sekarang beralih merokok dengan melinting sendiri (tingwe). Berenang sambil minum, itulah istilahnya karena ia juga berjualan tembakau dan cengkeh ke teman-temannya. Memanfaatkan momentum kenaikan harga rokok. Walaupun sebenarnya ia tak punya pengalaman tentang banyaknya jenis tembakau. Hanya bermodal waton alias nekad, ia tetap berjualan offline maupun online tembakau dan cengkeh. \nDi awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. Walaupun suasana mendung terlihat di langit rata, kami tiga orang dari Kudus tetap meluncur ke Kota Temanggung kota yang terkenal akan daun tembakaunya. Awalnya kami berdiskusi dulu tujuan ke Temanggung mau ngapain, sembari mempertimbangkan dan membayangkan begitu dinginnya hawa saat itu, karena musim hujan. Di Kudus aja hampir tiap hari tiap malam turun hujan, apalagi di Temanggung. Sembari diskusi salah satu di antara kita ada yang sedang nelfon teman di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Ternyata Fuad tidak mengerti apa itu beasiswa KNPK dan dimana alamatnya? walaupun ia asli orang Temanggung, lalu ia minta Share lokasi. Suryanto ngirim share lokasi, sembari beri penjelasan jangan kesini dulu (kantor beasiswa KNPK), karena kita tidak lama, setelah urusan selesai segera mungkin meluncur kerumahmu, barulah Fuad paham kalau ia hanya duduk manis dirumah saja, tidak usah repot-repot nyamperin. Sesampainya di rumah Fuad, ia mempersilahkan masuk dan duduk, kemudia ia nawarin racikan kopi Temanggung buatannya, yang terenak ceritanya sendiri. Karena penasaran, kitapun ikut Fuad masuk kedalam ruang tengah bagian rumah, tempat membuat kopi. Diruangan tengah tersebut ternyata banyak bungkusan kopi dikemas siap kirim. Kitapun bertanya, \u201ckamu jualan kopi ad\u201d, dijawab \u201cya\u201d sambil nunjuk-nunjuk ia bilang \u201cini pesanan orang Jakarta, ini pesanan orang Kalimantan\u201d. Pujianto orang yang lugu bertanya, \u201ckok bisa ngerti, tempat kamu jualan dimana?\u201d. Haha\u2026..semua pada tertawa, Fuad nyeletuk \u201chari gini masih ada orang katrok\u201d, lalu Fuad jelasin kalau ia jualan online lewat FB, kopi-kopi ini ia beli dari petani-petani kopi atas (pegunungan). <\/p>\n\n\n\n Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia. <\/p>\n\n\n\n Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja. Kabupaten Temanggung masuk wilayah pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan merupakan sentra tembakau terbaik di Indonesia. Jenis tembakau yang tersohor dan hanya didapat di Kabupaten Temanggung adalah jenis tembakau srinthil. Jenis tembakau inilah yang selalu diimpikan dan diidam-idamkan petani tembakau di Temanggung. Namun apa daya bagi petani tembakau yang ada didataran rendah, karena srinthil hanya bisa dihasilkan didataran tinggi dengan kemiringan tertentu. Namun mereka tidak patah semangat untuk menanam tembakau, karena sejelek apapun tembakau asli Temanggung masih banyak yang membutuhkan sebagai bahan pokok olahan kretek. Anehnya, setelah melakukan penelusuran di web BPS Temanggung melalui temanggungkab.bps.go.id\/subject\/54\/perkebunan.html, belum ditemukan dengan detail informasi bahwa mayoritas masyarakat di Temanggung adalah bertani tembakau. Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n Baca: Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin<\/a><\/p>\n\n\n\n Sederhananya begini, penduduk di Indonesia ini banyakan mana yang merokok dan yang tidak merokok?. Jawaban pertanyaan ini harus clear<\/em> dulu. Pastinya jawaban sesuai fakta adalah banyak yang tidak merokok . Ya iyalah, penduduk di Indonesian ini kan jumlahnya didominasi kaum hawa dan mereka banyak yang tidak merokok. Belum lagi anak-anak, remaja yang masih sekolah belum boleh merokok sesuai aturan kebijakan pemerintah. Bahkan di kalangan kaum adam pun banyak yang tidak merokok, iya kan? Lalu logikanya gimana ya, perokok itu kaum minoritas tapi penyumbang kemiskinan nomor dua setelah beras. Mungkin begini penjelasannya, karena harga rokok terlalu mahal akibat pungutan pajak pemerintah berupa cukai terlalu gede. Jadi wajar kalau pengeluaran untuk rokok kretek filter ikut gede pula. Sebab pajak yang dipungut untuk rokok kretek filter paling gede dibanding rokok kretek non filter. Nah ketahuan, rokok menjadi penyumbang kemiskinan kedua setelah beras akibat dari pungutan pajak pemerintah terlalu tinggi, begitulah alurnya.<\/p>\n\n\n\n Dibawah ini, sajian data Sesenas supaya lebih mudah dan lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n Pada tabel di atas, ada 13 item makanan dan 8 item non makanan penyumbang kemiskinan di Indonesia sesuai data Susenas. Dilihat per item penyumbang kemiskinan tersebut mayoritas menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari sebagai mahluk hidup butuh makan dan perlindungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tembakau yang Paling Laris di Pasar Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n Data Susenas tersebut seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan. Artinya pemerintah harusnya berupaya agar harga komuditas dan kebutuhan disesuai daya beli masyarakat. Ambil contoh pajak cukai rokok khususnya kretek filter jangan terlalu tinggi. Merokok kretek filter dan non filter sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara sudah ratusan tahun. Apalagi meracik rokok menjadi salah satu warisan nenek moyang. Tak berhenti disitu, aktifitas merokok tidak hanya sebuah tradisi tanpa makna. Merokok sebagai media relaksasi, rekreasi bahkan sampai sebagai media pengobatan. Jika menengok sejarah adanya rokok kretek khas Indonesia, dahulu kali pertama muncul rokok kretek untuk mengobati sakit bengek. Selanjutnya banyak riset yang mengatakan bahwa konten atau bahan dasar rokok kretek sangat dibutuhkan tubuh manusis. Hasil riset ini silahkan dibaca lagi pada tulisan terdahulu yang telah diterbitkan pada web boleh merokok yang berjudul \u201cTernyata Tubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi rokok kretek asli Indonesia tak hanya menyumbang kas negara, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Jika ada informasi bahwa rokok penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, jangan ditelan mentah-mentah, harus ditelusuri dahulu minimal dilihat akar penyebabnya, jangan asal menjustis. Tadi sudah dijelasin di atas ya. Asal tahu aja, kalau masyarakat dilarang merokok rokok kretek filter sebenarnya yang paling rugi itu pemerintah, pendapatan kas Negara akan berkurang. Perusahaan rokok kretek bisa beralih ke profisi lain, sedangkan hasil pertanian tembakau dan cengkeh tetap akan dikonsumsi masyarakat dengan melinting sendiri \u201cTingwe\u201d. <\/p>\n\n\n\n Logika lain, jika rokok kretek filter penyumbang kemiskinan kedua setelah beras, dan harus ditinggalkan dengan dalih supaya masyarakat tidak miskin. Berarti komoditas dan kebutuhan yang lain, terutama beras yang paling besar sumbangannya terhadap kemiskinan\u00a0 harus ditinggalkan, agar masyarakat lebih sejahtera?. Pastinya hal tersebut bukan solusi yang baik. Masak kebutuhan pokok ditinggalkan. Disinilah Pemerintah harus mengambil kebijakan yang solutif agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan tetap sejahtera.\u00a0\u00a0 Banyak orang salah menalar saat membaca data sajian Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika baca datanya aja sudah salah, pastinya logika secara otomatis akan ikut keliru. Siapapun dia, harus hati-hati jika membaca data tersebut. Begitu keliru baca datanya, bias sesatkan pikiran si pembaca, bahkan bisa menyesatkan pikiran orang lain. Untuk itu mari kita sama-sama belajar baca data Susenas, agar tidak sesat dan menyesatkan pikiran banyak orang, seperti yang telah dilakukan salah satu juru bicara Presiden.<\/p>\n\n\n\n Kemarin ada seorang teman yang mengirim link tautan media sosial salah seorang juru bicara Presiden yang membahas \u201crokok\u201d menjadi sebab kemiskinan kedua setelah beras. Sang Juru Bicara tersebut menulis, \u201ctidaklah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok kini?\u201d.<\/p>\n\n\n\n Seseorang ini tidak usah disebutkan namanya ya, sebab tak baik, ntar yang ada hanya perselisian dan pertengkaran. Karena ia ini kasihan menjadi salah satu korban dari ketidaktahuan, sayangnya ia tidak mau belajar dan cari tahu dahulu. Memang data Susenas dibuat seperti itu, sehingga banyak orang terjebak, bahkan di tahun-tahun sebelumnya ada salah satu pejabat Susenas membaca datanya pun demikian, dengan memojokkan rokok kretek akibatnya sesat dan menyesatkan banyak orang.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di ujung obrolan kita di jalan, akhirnya aku antar ke toko \u201csantoso\u201d kebetulan tidak jauh dari tempat kita ketemu. Toko santosa ini salah satu toko penjual rokok legendaris. Seorang tionghoa yang usianya sekitar 60an lebih, dan orangnya sangat ramah. Toko ini setahuku sejak kecil sudah ada. Selain harganya agak murah dibanding lainnya, di toko tersebut lengkap varian merek rokok. Bahkan toko tersebut sebagai rujukan bagi para penggemar rokok lintingan \u201ctingwe\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mendengar cerita tersebut, awalnya abahnya tidak percaya, dan malah balik membantah kalau rokok itu biang penyakit. Tapi ia (Niam) tetap berpendirian teguh menceritakan apa yang sedang dialaminya dan berupaya meyakinkan abahnya. Akhirnya pun abahnya luluh juga dan mendukungnya, \u201cnek ancen ngono yo ora opo-opo am\u201d kalau memang begitu, ya tidak apa-apa (kamu merokok), cerita niam kembali.
Niam cerita keadaannya, awalnya ia mencari toko penjual tembakau di Kudus. Kebetulan ketemu dijalan Sunan Kudus lalu aku disapa dan ditanyain tempat yang jualan tembakau. Ia menyapa, karena kakak kandungnya teman kuliah di Yogyakarta, dan dahulu ketika masih kecil seumur SD niam sering diajak kakaknya saat kita ngobrol bareng. Di keluarganya, satu-satunya yang merokok hanya Niam, lainnya menyentuhpun tidak apalagi mengkonsumsi rokok.<\/p>\n\n\n\n
Di ujung obrolan kita di jalan, akhirnya aku antar ke toko \u201csantoso\u201d kebetulan tidak jauh dari tempat kita ketemu. Toko santosa ini salah satu toko penjual rokok legendaris. Seorang tionghoa yang usianya sekitar 60an lebih, dan orangnya sangat ramah. Toko ini setahuku sejak kecil sudah ada. Selain harganya agak murah dibanding lainnya, di toko tersebut lengkap varian merek rokok. Bahkan toko tersebut sebagai rujukan bagi para penggemar rokok lintingan \u201ctingwe\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemudian ia memberanikan diri bercerita pada abahnya. Tapi diawali dengan prolog pertanyaan dan permintaan\u201c abah kulo ceritani, neng ampun duko jeh, pripun bah?\u201d --abah saya kasih cerita tapi tidak boleh marah, gimana bah?. Akhirnya abah setuju tidak akan marah, setelah dapat kepastian barulah ia bererita. Kalau sakit kambuhan yang dideritanya sekarang tidak kambuh lagi karena ia merokok kretek tiap pagi sehabis sarapan sebelum pergi sekolah satu batang. Berulang ulang ia lakukan hal tersebut, akhirnya tidak kambuh lagi. Tapi kalau di pagi hari tidak merokok kretek, mungkin karena lupa atau tidak ada waktu untuk merokok, pastinya sakit sesak nafasnya kambuh lagi. Sehingga sampai sekarang ia putuskan untuk mengkonsumsi rokok tiap hari.<\/p>\n\n\n\n
Mendengar cerita tersebut, awalnya abahnya tidak percaya, dan malah balik membantah kalau rokok itu biang penyakit. Tapi ia (Niam) tetap berpendirian teguh menceritakan apa yang sedang dialaminya dan berupaya meyakinkan abahnya. Akhirnya pun abahnya luluh juga dan mendukungnya, \u201cnek ancen ngono yo ora opo-opo am\u201d kalau memang begitu, ya tidak apa-apa (kamu merokok), cerita niam kembali.
Niam cerita keadaannya, awalnya ia mencari toko penjual tembakau di Kudus. Kebetulan ketemu dijalan Sunan Kudus lalu aku disapa dan ditanyain tempat yang jualan tembakau. Ia menyapa, karena kakak kandungnya teman kuliah di Yogyakarta, dan dahulu ketika masih kecil seumur SD niam sering diajak kakaknya saat kita ngobrol bareng. Di keluarganya, satu-satunya yang merokok hanya Niam, lainnya menyentuhpun tidak apalagi mengkonsumsi rokok.<\/p>\n\n\n\n
Di ujung obrolan kita di jalan, akhirnya aku antar ke toko \u201csantoso\u201d kebetulan tidak jauh dari tempat kita ketemu. Toko santosa ini salah satu toko penjual rokok legendaris. Seorang tionghoa yang usianya sekitar 60an lebih, dan orangnya sangat ramah. Toko ini setahuku sejak kecil sudah ada. Selain harganya agak murah dibanding lainnya, di toko tersebut lengkap varian merek rokok. Bahkan toko tersebut sebagai rujukan bagi para penggemar rokok lintingan \u201ctingwe\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Cerita niam lagi, bapaknya pun saat itu ternyata mengamati dan heran, karena biasanya tiap bulan kedokter kok setelah sekolah di Kudus tidak pernah lagi berobat ke dokter. Saking penasaran, bapaknya bertanya langsung \u201cam saiki kok wes ra tau neng dokter? Opo goro-goro mondok opo piye?\u201d am sekarang kok tidak lagi ke dokter? Apa gara-gara pergi mondok atau ada alasan lain?. Saat ditanya abahnya (panggilan bapaknya), ia bingung mau jawab gimana, dalam benaknya kalau diceritakan apa adanya pasti abah akan marah sekali, kalau anaknya ini ternyata perokok. Andaikan tidak dijawab, pasti abah akan bertanya terus setiap ketemu, karena tipikal abahnya begitu.<\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia memberanikan diri bercerita pada abahnya. Tapi diawali dengan prolog pertanyaan dan permintaan\u201c abah kulo ceritani, neng ampun duko jeh, pripun bah?\u201d --abah saya kasih cerita tapi tidak boleh marah, gimana bah?. Akhirnya abah setuju tidak akan marah, setelah dapat kepastian barulah ia bererita. Kalau sakit kambuhan yang dideritanya sekarang tidak kambuh lagi karena ia merokok kretek tiap pagi sehabis sarapan sebelum pergi sekolah satu batang. Berulang ulang ia lakukan hal tersebut, akhirnya tidak kambuh lagi. Tapi kalau di pagi hari tidak merokok kretek, mungkin karena lupa atau tidak ada waktu untuk merokok, pastinya sakit sesak nafasnya kambuh lagi. Sehingga sampai sekarang ia putuskan untuk mengkonsumsi rokok tiap hari.<\/p>\n\n\n\n
Mendengar cerita tersebut, awalnya abahnya tidak percaya, dan malah balik membantah kalau rokok itu biang penyakit. Tapi ia (Niam) tetap berpendirian teguh menceritakan apa yang sedang dialaminya dan berupaya meyakinkan abahnya. Akhirnya pun abahnya luluh juga dan mendukungnya, \u201cnek ancen ngono yo ora opo-opo am\u201d kalau memang begitu, ya tidak apa-apa (kamu merokok), cerita niam kembali.
Niam cerita keadaannya, awalnya ia mencari toko penjual tembakau di Kudus. Kebetulan ketemu dijalan Sunan Kudus lalu aku disapa dan ditanyain tempat yang jualan tembakau. Ia menyapa, karena kakak kandungnya teman kuliah di Yogyakarta, dan dahulu ketika masih kecil seumur SD niam sering diajak kakaknya saat kita ngobrol bareng. Di keluarganya, satu-satunya yang merokok hanya Niam, lainnya menyentuhpun tidak apalagi mengkonsumsi rokok.<\/p>\n\n\n\n
Di ujung obrolan kita di jalan, akhirnya aku antar ke toko \u201csantoso\u201d kebetulan tidak jauh dari tempat kita ketemu. Toko santosa ini salah satu toko penjual rokok legendaris. Seorang tionghoa yang usianya sekitar 60an lebih, dan orangnya sangat ramah. Toko ini setahuku sejak kecil sudah ada. Selain harganya agak murah dibanding lainnya, di toko tersebut lengkap varian merek rokok. Bahkan toko tersebut sebagai rujukan bagi para penggemar rokok lintingan \u201ctingwe\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Niam namanya, ia lahir di Kota Ukir Jepara tepatnya di Desa Kalipucang Kecamatan Welahan. Setelah lulus SMP ia melanjutkan sekolah SMA di Kudus sembari mondok di pesantren. Setelah lulus SMA, ia kembali pulang ke rumah sembari kuliah di Kudus. Tapi kali ini, ia tidak mondok lagi, memilih di rumah sambil membantu kedua orang tuanya berjualan. Jadi, ia hampir tiap hari pergi pulang Jepara Kudus untuk belajar.
Mulai SMP suka sekali berorganisasi, dan sekarang BEM di salah satu fakultas universitas swasta di Kudus. Orangnya memang energik dan kalau sudah punya kemauan jadi WPPC \u201cwes pokoke piye carane\u201d\u2014pokoknya gimana caranya\u2014harus berhasil.
Niam ini punya pengalaman rokok yang bisa menyembuhkan sakit sesak nafasnya. Sakitnya ini diderita sejak kecil, dan dipastikan tiap satu bulan harus mengeluarkan uang untuk kedokter dan beli alat hisap pereda sesak nafas, kata bapaknya.
Diceritakan kalau niam mulai merokok sejak di bangku SMA sampai sekarang. Ia terpaksa merokok karena kalau tidak merokok, sakit sesak nafas yang dideita sejak kecil akan kambuh. Kali pertama, ia mengenal rokok dari beberapa membaca referensi tentang sejarah ditemukannya rokok kretek di Kudus. Awalnya ia masih ragu, dan pikirannya takut, kalau saja saat merokok keluarganya tau. Sedikit demi sedikit ia coba merokok, hasilnya yang biasanya dipastikan tiap bulan harus kedokter, setelah merokok sakitnya tak kambuh lagi. Tapi ia pun tidak lantas percaya seratus persen, karena pengalaman pertama,setelah melalui uji coba yang berbulan-bulan, baru ia memastikan karena rokok penyakit sesak nafas kambuhan hilang.<\/p>\n\n\n\n
Cerita niam lagi, bapaknya pun saat itu ternyata mengamati dan heran, karena biasanya tiap bulan kedokter kok setelah sekolah di Kudus tidak pernah lagi berobat ke dokter. Saking penasaran, bapaknya bertanya langsung \u201cam saiki kok wes ra tau neng dokter? Opo goro-goro mondok opo piye?\u201d am sekarang kok tidak lagi ke dokter? Apa gara-gara pergi mondok atau ada alasan lain?. Saat ditanya abahnya (panggilan bapaknya), ia bingung mau jawab gimana, dalam benaknya kalau diceritakan apa adanya pasti abah akan marah sekali, kalau anaknya ini ternyata perokok. Andaikan tidak dijawab, pasti abah akan bertanya terus setiap ketemu, karena tipikal abahnya begitu.<\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia memberanikan diri bercerita pada abahnya. Tapi diawali dengan prolog pertanyaan dan permintaan\u201c abah kulo ceritani, neng ampun duko jeh, pripun bah?\u201d --abah saya kasih cerita tapi tidak boleh marah, gimana bah?. Akhirnya abah setuju tidak akan marah, setelah dapat kepastian barulah ia bererita. Kalau sakit kambuhan yang dideritanya sekarang tidak kambuh lagi karena ia merokok kretek tiap pagi sehabis sarapan sebelum pergi sekolah satu batang. Berulang ulang ia lakukan hal tersebut, akhirnya tidak kambuh lagi. Tapi kalau di pagi hari tidak merokok kretek, mungkin karena lupa atau tidak ada waktu untuk merokok, pastinya sakit sesak nafasnya kambuh lagi. Sehingga sampai sekarang ia putuskan untuk mengkonsumsi rokok tiap hari.<\/p>\n\n\n\n
Mendengar cerita tersebut, awalnya abahnya tidak percaya, dan malah balik membantah kalau rokok itu biang penyakit. Tapi ia (Niam) tetap berpendirian teguh menceritakan apa yang sedang dialaminya dan berupaya meyakinkan abahnya. Akhirnya pun abahnya luluh juga dan mendukungnya, \u201cnek ancen ngono yo ora opo-opo am\u201d kalau memang begitu, ya tidak apa-apa (kamu merokok), cerita niam kembali.
Niam cerita keadaannya, awalnya ia mencari toko penjual tembakau di Kudus. Kebetulan ketemu dijalan Sunan Kudus lalu aku disapa dan ditanyain tempat yang jualan tembakau. Ia menyapa, karena kakak kandungnya teman kuliah di Yogyakarta, dan dahulu ketika masih kecil seumur SD niam sering diajak kakaknya saat kita ngobrol bareng. Di keluarganya, satu-satunya yang merokok hanya Niam, lainnya menyentuhpun tidak apalagi mengkonsumsi rokok.<\/p>\n\n\n\n
Di ujung obrolan kita di jalan, akhirnya aku antar ke toko \u201csantoso\u201d kebetulan tidak jauh dari tempat kita ketemu. Toko santosa ini salah satu toko penjual rokok legendaris. Seorang tionghoa yang usianya sekitar 60an lebih, dan orangnya sangat ramah. Toko ini setahuku sejak kecil sudah ada. Selain harganya agak murah dibanding lainnya, di toko tersebut lengkap varian merek rokok. Bahkan toko tersebut sebagai rujukan bagi para penggemar rokok lintingan \u201ctingwe\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di toko tersebut, Niam ternyata membeli banyak varian tembakau, memborong cengkeh kemasan dan tak lupa ia beli banyak kertas papir. Yang akhirnya di tanya oleh salah satu pelayan tokonya, mungkin karena penasaran belinya terlalu banyak, \u201cmas, ini dijual lagi apa dikonsumsi sendiri?\u201d. Jawab Niam \u201c dikonsumsi sendiri sama dijual online mbak, karena harga rokok naik mendingan melinting sendiri sisanya di jual. Kemarin-kemarin beli tembakau online dan jual online lagi. Ternyata banyak yang minat buat rokok sendiri (tingwe) akhir-akhir ini akhirnya aku harus nyetok tembakau banyak. Tiap hari ada pesanan yang harus aku kirim \u201d. <\/p>\n\n\n\n
Dari obrolan Niam dan pelayan toko tersebut, sebagai bukti banyak orang yang sudah mulai ekpansi ke Tingwe dari pada beli rokok yang bercukai mahal. Tak hanya itu, Niampun punya alat khusus untuk melinting rokok yang dibelinya lewat online dengan harga 60 ribu. Ini memperkuat ada inovasi baru dalam dunia tingwe. Adanya alat tersebut mempermudah orang-orang membuat rokok sendiri. Pastinya kedepan dunia tingwe punya babak baru mewarnai sektor pertembakauan di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Beralih ke Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beralih-ke-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-15 09:20:21","post_modified_gmt":"2020-01-15 02:20:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6378","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6372,"post_author":"877","post_date":"2020-01-13 12:08:46","post_date_gmt":"2020-01-13 05:08:46","post_content":"\n
\nAda tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua. \n
\nTerlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya. \n
\nMari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan \u2013bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya. \n
\nSalah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno. \n
\nKeadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.\n
\n Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota\/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup. \n
\nJadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan. <\/p>\n","post_title":"Masa Depan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-13 12:08:53","post_modified_gmt":"2020-01-13 05:08:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6362,"post_author":"877","post_date":"2020-01-08 11:29:13","post_date_gmt":"2020-01-08 04:29:13","post_content":"\n
Teman lama saat masih kuliah di kota budaya Yogyakarta. Saat masih kuliah teman kita satu ini dari Temanggung orangnya gaul. Bahasa anak muda dulu menamai orang yang keren, ngikuti perkembangan zaman, Hpnya bagus, sudah bawa mobil, berduit, pakainya pun kekinian dan seterusnya, pokoknya begitulah. Tapi saat di telfon, ia belum mengangkat telfonnya, bahkan di W.A pun belum menjawab. <\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya kita memutuskan tetap pergi ke Temanggung, kalaupun tidak ketemu teman, kita akan jalan-jalan di kota tembakau tersebut, setelah mampir di kantor beasiswa KNPK. Dalam perjalanan terkadang teman ku yang bernam Suryanto masih menelfon ke Fuad (nama teman yang di Temanggung), sedangkan temen yang satu bernama Pujianto, ia asyik menyetir sambil mendengarkan lagu kesukaannya dan merokok.
Disaat mau masuk wilayah Temanggung, HP Suryanto yang sedang di cas berbunyi, ia sedang mengantuk dan gak dengar. Kita berusaha kasih tau kalau HPnya bunyi, malah di jawab \u201cpaling istriku mau pesen oleh-oleh\u201d. Akhirnya hp gak diangkat. Setelah berulangkali bunyi barulah HP coba diambil, ternyata yang telpon si Fuad, langsung di terima dan mereka ngobrol. Pada intinya Fuad di rumah dan ia menunggu kedatangan kita. <\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di Temanggung, perjalanan yang kita tuju kali pertama ke kantor beasiswa KNPK. Sambil rehat sebentar, saya ngobrol-ngobrol kecil dengan mbak Ela dan Reva. Di sela-sela rehat, Fuad aktif menelfon Suryanto menanyakan sudah sampai mana keberadaan kita. Suryanto menjawab kalau kita sudah di Temanggung dan posisinya baru di Kantor beasiswa KNPK. <\/p>\n\n\n\n
Tidak lama, setelah urusan selesai, kita meluncur ke rumah Fuad yang jaraknya kurang lebih sekitar 10 KM arah utara kota Temanggung. <\/p>\n\n\n\n
Setelah air mendidik, ia keluarkan peralatan-peralatannya khusus buat kopi untuk kita. Dalam batinku, niat bener si Fuad ini bikinin kopi buat kita, pasti enak. Ternyata benar, kopi buatannya memang enak mantap dan nikmat setelah aku cicipi. Kopi semua sudah jadi kita dipersilahkan ke ruang tamu kembali untuk menikmati kopi dan ngobrol sambil dipersilahkan mencicipi gorengan tempe khas Temanggung. Wah nikmat banget rasanya. Saat ngobrol si Fuad ngluarin tembakau dan kertas papir dari tempat kecil menyerupai dompet dari bahan bambu. Ia pun menawarkan ke kita \u201cmari ini tembakau asli Temanggung, dijamin nikmat\u201d bisa melinting, atau aku lintingkan? tanya fuad ke kita. Kita bersamaan menjawab \u201cdibuatkan aja ad, kita gak biasa melinting\u201d. Lagi-lagi Fuad nyeletuk \u201ckalian ini ketinggalan jaman\u201d sambil melinting rokok buat kita. Akhirnya aku penasaran dan bertanya \u201cmaksudnya apa ad kok ketinggalan zaman?\u201d. Fuad menjawab \u201cya sudah ni di rokok, pasti ntar kamu tau\u201d. Kita pun akhirnya merokok lintingan, lagi-lagi ramuan Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Sambil minum kopi dan merokok lintingang ternyata nikmat juga, celetukan Suryanto sambil menghembuskan asap rokok lintingannya ke atas sambil memandangi langit-langit atap. Dan memang benar, bahan tembakau yang dibuat rokok lintingan Fuad sangat enak, tidak gampang memilih tembakau yang enak buat rokok. Kalau pabrikan sudah pasti punya ahlinya, dan tembakaunya tidak hanya satu jenis, bahkan beberapa jenis tembakau di racik dalam satu rokok. Tembakau yang dipakai Fuad hanya satu jenis dan sedikit dibubuhi cengkeh, rasanya sudah enak dan mantap. Akhirnya aku tanya \u201ctemabakau mana ini ad?\u201d, dijawab \u201cenak ya, banyak kok disini yang jualan tembakau enak, langganan anak muda-muda sini, di dekat pasar Paraan ada, di kota ada, nanti aku anterin\u201d.
Tidak terasa hari menjelang magrib, kita dipersilahkan mandi dan nanti mau diajak jemput istrinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Temanggung. setelah sholat magrib kita akhirnya ikut Fuad menjemput istrinya, diperjalanan kita teringat teman satu lagi bernama Dirham. Ternyata rumah si Dirham tetanggaan dengan rumah istri Fuad. Akhirnya Dirham ditelfon dan janjian bertemu di rumah mertua Fuad. <\/p>\n\n\n\n
Setelah istri Fuad keluar, kita beli tembakau dulu, ternyata toko tembakau langganan Fuad dekat sekali dengan kantor beasiswa KNPK, hanya sekitar 5 menit kalau jalan kaki arah barat. Memang benar, di toko tersebut banyak orang-orang gaul antri beli tembakau. Akhirnya aku ikut turun ikut Fuad beli tembakau. Asyiknya mereka ini sudah nyiapin tempat tembakaunyasendiri seperti milik Fuad (berbentuk dompet terbuat dari anyaman bambo) dan itu rata begitu. <\/p>\n\n\n\n
Selesai beli tembakau langsung meluncur ke desa Ngadirejo tempat mertua Fuad, karena sudah janji bertemu Dirham, ia juga teman lama saat kuliah di Yogyakarta. Akhirnya kita ketemu dan ngobrol. Fuad lagi-lagi nawarin kopi, ya jelas kita setuju apalagi didukung dengan tingwe dan hawa dingin, wah sungguh nikmat. Sembari nunggu kopi buatan Fuad, kita melinting tembakau yang baru dibeli. Ternyata si Dirhampun begitu, ia mengeluarkan dompet bahan bambo, kemudian menarik tembakau, papir dan bungkusan cengkeh. Dirham aku tanya,\u201d Ham orang temanggung banyak yang melinting dan tempat peyimpan temabakuannya hampir mirip semua?\u201d. Jawab Dirham \u201c harga rokok mahal, mending melinting sendiri, beli bahan bakunya murah dan sama-sama nikmat, melinting sendiri sekarang jadi trend di Temanggung\u201d. Tak lama, kopipun di kelurkan Fuad, sambil menyambar pembicaraan kita, \u201ctidak keren tidak gaul kalau belum melinting dan bawa dompet seperti ini, ya kan Ham?\u201d sambil menunjuk dompet Dirham di atas meja. Dirham langsung menjawab \u201cya betul ad\u201d, dan ia bercerita, saat ini dikata gaul dan keren bagi orang Temanggung kalau hasil lintingan rokoknya sudah bagus dan sambil menenteng dompet, mereka PD kemana-mana selalu di bawa. <\/p>\n\n\n\n
Cerita Dirham lagi, bahwa sekarang masyarakat kalau mau hajatan atau acara besar tidak segan-segan membuat rokok lintingan yang nanti akan disajikan tamu undangannya. Kemudian Dirham menunjukan salah satu status FB atas nama Yanar Ardi orang Temanggung asli dari Semarang yang ia kenal, di Fb tersebut terdapat Foto banyak sekali rokok dengan tulisan \u201crokok tingwe persiapan mantu adinda, maklum sekarang rokok mahal (tidak dijual tapi demi persaudaraan). Selain itu terpampang tulisan yang di copas dari artikel Ir Masrik Amin Zuhdi, M.Si selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung tentang \u201cManfaat Nikotin Yang Disembunyikan dan Tidak Pernah di Expose---TernyataTubuh Manusia Membutuhkan Zat Yang Terkandung Dalam Sebatang Rokok Kretek\u201d. Asiknya tulisan ini telah tayang di web bolehmerokok.com pada tanggal 16 Mei 2019. <\/p>\n","post_title":"Tingwe yang Makin Kekinian","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-yang-makin-kekinian","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-08 11:29:21","post_modified_gmt":"2020-01-08 04:29:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6362","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6344,"post_author":"877","post_date":"2019-12-30 07:56:15","post_date_gmt":"2019-12-30 00:56:15","post_content":"\n
Jumlah penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2019 sekitar + 745.778 jiwa. Mata pencaharian masyarakat Temanggung yang bertani berjumlah 213.901 jiwa. Pemeluk agama Islam di temanggung juga sebagai mayoritas, berjumlah 646.969 jiwa. Warga NU di Temanggung diperkirakan sekitar + 490.051 jiwa, dan mayoritas mereka bergerak dalam pertembakauan. Ada yang petani tembakau, ada yang menjadi buruh tani tembakau, dan ada pula yang menjadi pedagang tembakau musiman saat panen raya tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Berbeda dari hasil laporan dalam Jurnal Bumi Indonesia, tembakau merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung karena kontribusinya yang tinggi terhadap pendapatan para petani. Daerah basis tembakau di Kabupaten Temanggung tersebar di 13 kecamatan dari 18 kecamatan yang menghasilkan komoditas tembakau. Terdapat alternatif komoditas unggulan selain tembakau berupa komoditas kopi arabika, kopi robusta. <\/p>\n\n\n\n
Dilihat luasan lahan Kabupaten Temanggung adalah 87.065 ha, 78,5% atau 68.346 ha berupa lahan pertanian, 11% atau 9.577 ha untuk kawasan pemukiman dan 10,5% atau 9.142 ha untuk sarana umum dan perkantoran. Lahan pertanian terdiri atas sawah 31,8% atau 20.634 ha dan 68,2% atau 46.612 ha berupa lahan kering. Jenis tanahnya terdiri atas: <\/p>\n\n\n\n
a. Latosol coklat 28.845 ha (33,13%) membentang di tengah wilayah Kabupaten Temanggung dari arah barat ke tenggara,
b. Latosol coklat kemerahan 8.297 ha (9,53%) sebagian besar berada di bagian timur dan tenggara,
c. Latosol merah kekuningan seluas 30.760 ha (35,33%) membentang di bagian timur ke barat,
d. Regosol seluas 17.535 ha (20,14%) berada di sekitar kali Progo dan lereng-lereng terjal,
e. Andosol 1.628 ha (2,60%). Curah hujan rata-rata berkisar antara 2.200 - 3.100 mm per tahun dengan 8 - 9 bulan basah dan 3 - 4 bulan kering.
Petani di lahan kering Kabupaten Temanggung sangat menggantungkan pendapatannya dari komoditas tembakau. Budidaya tembakau dilakukan sangat intensif setiap tahun dan tanpa ada waktu istirahat menanam tembakau. Pilihan utama petani adalah tembakau karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas lainnya. Pola pergiliran tanam dalam satu tahun secara umum dapat dibedakan sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
1. Jagung\/jagung + tembakau (55,1%)
2. Jagung\/bawang merah + tembakau (5,8%)
3. jagung\/kacang tunggak + tembakau (18,1%)
4. Jagung\/bawang putih + tembakau (6,5%)
5. Jagung\/lombok + tembakau (5,8%)
6. Padi + tembakau (4,5%).
Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim. Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanaman tembakaunya. <\/p>\n\n\n\n
Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (Pencipta).
Di Temanggung terdapat banyak Gudang pembelian tembakau milik rokok pabrikan besar yang banyak menampung tembakau rakyat. Selain itu ada juga pasar tembakau yang beroperasional saat panen raya, salah satunya yang terkenal adalah pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota.
Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n
Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan di diami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut.
Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung terdapat tembakau terbaik sedunia yang terkenal dengan sebutan tembakau \u201csrintil\u201d. <\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-12-30 07:57:07","post_modified_gmt":"2019-12-30 00:57:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6344","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":13},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n