Masa Depan Tingwe

tingwe

Di awal tahun ini, semua harga jual rokokk eceran perbungkus mulai merangkak naik. Memang kenaikan harganya belum efektif, kemungkinan di bulan ketiga kenaikan harga semua merek rokok pabrikan sudah dalam puncak ketetapan. Nah, disinilah perokok mulai memilah dan memilih rokok apa yang sesui buatnya, dari segi rasa dan harga sesuai kemampuan. Tentuanya yang dimaksud adalah harga murah terjangkau dan rasanya cocok. Bahkan perokok tidak segan-segan kembali ke masa lalu dengan melinting sendiri “Tingwe”.

Ada tipikal orang sulit gonta-ganti merek rokok, ada juga orang yang sifatnya bisa merokok sembarang merek. Kelompok yang kedua ini relatif lebih cepat beradaptasi dengan adanya naiknya harga rokok di tahun 2020 ini. Artinya, mereka merokok apapun mau yang penting ngebul, semua merek rokok terasa nikmat. Beda dengan kelompok pertama, mereka ini sulit sekali meninggalkan merek rokok yang telah disukai. Bahkan biasanya minimal punya 2-3 klasifikasi merek rokok. Umpama rokok yang paling disuka merek A tidak ada, alternatifnya merokok merek B, kalau merek A dan B tidak ada, dengan terpaksa merek C. Kalau C pun tak ada, rela tidak merokok. Jika di bandingkan, kelompok pertama ini jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok kedua.
Terlepas kelompok satu atau dua, dua-duanya akan terdampak dari naiknya harga rokok tanpa terkecuali. Pastinya mereka semua akan berfikir ulang, apakah tetap mempertahankan membeli rokok kesukaannya ataupun pindah ke lain yang lebih murah. Dan pastinya mereka tidak akan memelih untuk tidak merokok, karena merokok itu salah satu tradisi budaya yang mendarah daging. Dengan merokok mendapatkan kenikmatan rasa, relaksasi dan rekreasi. Bahkan sebagian orang, aktifitas merokok itu untuk media mengeluarkan ide-ide kreatifnya, ada pula dengan merokok ia cepat menyelesaikan pekerjaaannya.
Mari coba tingwe diproyeksikan kedepan bersama-sama, dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Salah satu kekuatan tingwe adalah bagian tradisi budaya merokok tembakau masyarakat Indonesia yang keberadaannya (tingwe) sebagai cikal bakal budaya merokok pada umumnya. Bahan –bahan untuk tingwe sangat murah dan mudah didapat. Dengan tingwe lebih kreatif dan akan mendapatkan pengalaman lebih. Ambil contoh bisa merasakan tembakau hasil tiap kota, model, warna dan teksturnya. Sedang pengalaman ini tidak akan bisa didapat hanya dengan merokok buatan pabrik. Dengan tingwe dapat menyalurkan ekpresinya sesuka hati mulai dari bentuknya, bahannya atau campurannya. Apakah bahannya mau tembakau Madura atau tembakau Temanggung atau tembakau lainnya. Apakah mau di kasih cengkeh banyak atau sedikit bahkan mau di campur dengan bahan lain, seperti halnya para orang tua di pegunungan yang sering menambahkan kemenyan dalam tingwenya. Yang jelas paling nikmat dan bisa untuk pengobatan jika tembakau di campur dengan cengkeh, semakin banyak cengkeh, maka semakin nikmat dan mantap rasanya. Tapi juga perlu ukuran, kalau saja perbandingan cengkeh dan tembakau lebih banyak cengkehnya, tentu tidak akan nikmat juga. Karena yang namanya merokok kretek itu bahan utama tembakau dan cengkeh sebagai campurannya.
Salah satu kelemahan tingwe, hasilnya (bentuk) tidak sebagus dan serapi seperti rokok industri. Ukrannya (silinder) dan kepadatan rokok selalu berubah-ubah ( tak pasti). Setiap ingin merokok baru melinting, kalaupun ada persediaan melinting yang dilakukan sebelumnya, pastinya akan banyak yang pudar karena kebanyakan bahan untuk melinting tidak dipersiapkan lem khusus untuk pengikat yang salah satu bahannya dari tepung tapioka. Tempat penyimpanan tembakaunya yang selalu dibawa belum ada yang standart, seringkali masih terbungkus plastik. Banyak orang masih beranggapan tingwe itu kuno.
Keadaan sekarang, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap industri kretek nasional, seperti cukai rokok tiap tahunnya selalu dinaikkan dan kebijakan lainnya. Tingwe sangat berpeluang sebagai pilihan satu-satunya media merokok kretek alternatif yang murah, tapi tidak murahan.
Ancaman tingwe, berpotensi akan mengikis pajak pendapatan Negara yang diambil dari cukai rokok hasil produksi industri. Dapat mempengaruhi terjadinya melemahnya sektor industri rokok kretek nasioanal yang padat karya. Seperti melemahnya permintaan rokok industri, kemudian akan terjadi penyusutan karyawan atau buruh industri, pengurangan jam kerja, yang selanjutnya akan mengurangi pendpatan karyawan. Tak hanya itu, lebih lanjut adanya tingwe sangat berpotensi melemahkan sektor ekonomi di kota-kota/kabupaten yang terdapat industri rokok kretek khususnya, umumnya berpengaruh skala nasional. Karena satu-satunya industri yang masih eksis dari jaman penjajahan hingga sekarang hanyalah industri rokok kretek nasional. Sedang industri lainnya mengalami pasang surut , bahkan banyak yang tutup.
Jadi pada intinya, penggemar tingwe di masa depan akan selalu bertambah, mengingat dan melihat keadaan cukai naik berpengaruh harga rokok industri pasti akan ikut naik. Dikarenakan, harga rokok dipasaran yang menentukan adalah pemerintah melalui cukai rokok yang harus dibayar di muka (didepan), walaupun barangnya berupa rokok belum jadi (belum diproduksi). Disini sebenarnya industri rokok kretek nasional semi BUMN, bedanya di BUMN lainnya pemerintah harus mengeluarkan modal (kapital), di industri kretek, pemerintah sepersenpun tidak mengeluarkan modal, akan tetapi mendapatkan keuntungan yang paling banyak dan bersih dibanding industri, dan karyawan. Aktifitas merokok kretek sudah menjadi budaya turun menurun, bahkan sudah mempunyai posisi dalam kehidupan masyarakat Nusantara, seperti untuk relaksasi, rekreasi bahkan pengobatan alternatif. Untuk itu dengan dalil apapun, aktifitas merokok kretek di Nusantara tidak bisa dihentikan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait